Wamenkeu Paparkan Strategi Indonesia di Forum Investasi UBS yang Catat Rekor Partisipasi

- Kamis, 04 Juni 2026 | 20:15 WIB
Wamenkeu Paparkan Strategi Indonesia di Forum Investasi UBS yang Catat Rekor Partisipasi

Forum investasi tahunan UBS, Asian Investment Conference (AIC), mencatat rekor partisipasi dengan menghadirkan lebih dari 6.000 peserta di dua lokasi, Singapura dan Hong Kong, pada 25 hingga 29 Mei lalu. Acara yang berlangsung selama sepekan ini menjadi wadah bagi para pembuat kebijakan global, pemimpin bisnis, dan investor untuk bertukar pandangan mengenai pasar, kebijakan, serta tema investasi jangka panjang.

Dalam forum tersebut, Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia, Suahasil Nazara, menyampaikan paparan di hadapan para hadirin. Ia memaparkan strategi Indonesia dalam menavigasi dinamika perdagangan global yang terus berubah di tengah ketidakpastian geopolitik saat ini.

Suahasil menegaskan bahwa perekonomian Indonesia tetap kokoh berkat faktor penggerak domestik yang kuat. “Perekonomian Indonesia terus ditopang oleh faktor penggerak domestik yang kuat, termasuk konsumsi rumah tangga, investasi, manufaktur, dan jasa,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya disiplin fiskal sebagai jangkar kredibilitas kebijakan. “Batas maksimal defisit sebesar 3% bukan hanya aturan fiskal, melainkan sebuah sinyal atas komitmen Indonesia terhadap pengelolaan ekonomi yang bijaksana dan berkelanjutan,” tambahnya.

Menurut Suahasil, pasar obligasi pemerintah Indonesia tetap tangguh meskipun terjadi volatilitas global. Hal ini, katanya, didukung oleh kredibilitas kebijakan dan basis investor domestik yang stabil. “Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan terus berfungsi sebagai peredam kejut (shock absorber), guna melindungi daya beli masyarakat serta menjaga stabilitas makroekonomi,” jelasnya.

Sementara itu, Joshua Tanja, Head of UBS Indonesia Research, UBS Investment Bank, menyebutkan bahwa AIC 2026 di Singapura dan Hong Kong memfasilitasi lebih dari 3.000 pertemuan antara investor global dengan perusahaan publik, perusahaan swasta, dan investor. “Acara ini menyajikan diskusi makro yang mencakup perdagangan global, komoditas, dan perubahan kebijakan dengan latar belakang dinamika kebijakan dan perdagangan global,” katanya. Joshua juga mengapresiasi kehadiran Suahasil yang memaparkan lanskap investasi Indonesia. “Untuk Indonesia, UBS optimis bahwa prospek pertumbuhan akan tetap stabil, didukung oleh permintaan domestik yang tangguh, kebijakan fiskal dan moneter yang bijaksana, serta momentum yang berkelanjutan di sektor manufaktur dan jasa,” ujarnya.

Agenda utama di kedua konferensi mencakup sejumlah dialog utama dan diskusi panel yang mendalam. Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah dialog antara Simon Johnson, peraih Nobel 2024, dan The Hon Dr Kevin Rudd A.C., Presiden dan CEO Asia Society, yang membahas bagaimana politik dan teknologi membentuk kembali pertumbuhan global, inflasi, dan arus modal. Di sesi lain, David Rubenstein, Co-Founder dan Co-Chairman Carlyle, berdiskusi dengan Iqbal Khan, Co-President UBS Global Wealth Management, mengenai pasar, investasi, dan peluang jangka panjang.

Diskusi mengenai kebijakan moneter turut menjadi sorotan. Adrian Orr, mantan Gubernur Reserve Bank of New Zealand, dan Charles Evans, mantan Presiden dan CEO Federal Reserve Bank of Chicago, memberikan perspektif mereka tentang langkah selanjutnya bagi kebijakan moneter global. Sementara itu, panel geopolitik menghadirkan para pemimpin politik terkemuka seperti Alastair Campbell, Dr Ng Eng Hen, dan Carla Sands yang membahas lanskap global yang terus berkembang.

Topik lain yang tak kalah penting adalah perekonomian Jepang dan Tiongkok. Satsuki Katayama, Menteri Keuangan Jepang, memaparkan peran negaranya dalam tatanan ekonomi dan keuangan global yang sedang bergeser. Di sisi lain, Dr Huang Haizhou, anggota Komite Kebijakan Moneter Bank Sentral Tiongkok (PBoC), memberikan pandangan mengenai perkembangan ekonomi Tiongkok ke depan.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar