Trump Ancam Bombardir Oman Jika Bekerja Sama dengan Iran Kuasai Selat Hormuz

- Jumat, 29 Mei 2026 | 06:45 WIB
Trump Ancam Bombardir Oman Jika Bekerja Sama dengan Iran Kuasai Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ancaman penggunaan kekuatan militer terhadap Oman apabila negara tersebut berkolaborasi dengan Iran dalam upaya memperkuat kendali atas Selat Hormuz. Pernyataan kontroversial itu disampaikan Trump saat menjawab pertanyaan wartawan dalam rapat kabinet di Washington, Rabu (27/5) waktu setempat. Ancaman tersebut langsung menuai respons tegas dari Iran yang menyatakan solidaritas penuh terhadap Oman.

Dalam rapat tersebut, seorang reporter meminta pandangan Trump mengenai gagasan Oman dan Iran bersama-sama mengawasi perdagangan di Selat Hormuz jalur perairan yang menangani lebih dari 20 persen lalu lintas minyak global. Pertanyaan itu memicu reaksi keras dari presiden AS. Tanpa basa-basi, Trump menegaskan bahwa tidak ada pihak yang berhak mengendalikan selat tersebut.

“Tidak ada yang akan mengendalikannya. Itu perairan internasional, dan Oman akan berperilaku seperti negara lain, atau kita harus meledakkan mereka,” ujar Trump dalam pernyataan yang terekam dan kemudian disebarluaskan.

Awalnya, sebagian pihak berspekulasi bahwa Trump mungkin salah ucap dan bermaksud menyebut Iran, bukan Oman. Namun, spekulasi itu segera terbantahkan setelah Departemen Luar Negeri AS secara resmi membagikan komentar tersebut di media sosial dengan transkrip kutipan yang jelas merujuk pada Oman sebagai sasaran ancaman.

Sementara itu, hingga saat ini Oman belum menyatakan keinginan untuk bergabung dengan Iran dalam mengelola Selat Hormuz. Negara yang dikenal dengan sikap netral dalam politik regional itu justru memiliki hubungan dekat dengan Amerika Serikat selama lebih dari dua abad. Kedua negara terikat dalam sejumlah perjanjian kerja sama, termasuk kemitraan keamanan, perjanjian perdagangan bebas, serta kesepakatan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Di sisi lain, Iran langsung menyatakan solidaritas terhadap Oman. Sikap ini mempertegas ketegangan yang kembali memanas di kawasan Teluk, terutama menyangkut status Selat Hormuz yang selama ini menjadi titik rawan konflik kepentingan internasional.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar