Pembangunan Pabrik CA-EDC Chandra Asri Capai 66 Persen, Target Operasi Penuh Awal 2027

- Kamis, 07 Mei 2026 | 19:00 WIB
Pembangunan Pabrik CA-EDC Chandra Asri Capai 66 Persen, Target Operasi Penuh Awal 2027

Pembangunan pabrik raksasa chlor alkali dan ethylene dichloride (CA-EDC) milik PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), emiten petrokimia grup Prajogo Pangestu, telah mencapai 66 persen. Proyek strategis yang dikerjakan melalui anak usahanya, PT Chandra Asri Alkali, kini memasuki fase pengembangan infrastruktur logistik utama sebagai langkah persiapan menuju operasional penuh.

Lokasi pabrik tersebut berada di kawasan industri Cilegon, Banten. Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporasi Chandra Asri Group, Suryandi, menjelaskan bahwa infrastruktur yang tengah dibangun tidak hanya berfungsi untuk mendukung distribusi, penyimpanan, dan pengelolaan logistik produk CA-EDC. Lebih dari itu, infrastruktur ini dirancang untuk memperkuat konektivitas rantai pasok industri kimia, baik di tingkat nasional maupun regional.

“Kami harapkan dalam jangka panjang, fasilitas ini dapat meningkatkan daya saing Indonesia sebagai basis industri kimia di kawasan Asia Tenggara,” ujar Suryandi dalam keterangan resminya pada Kamis (7/5).

Fase pembangunan saat ini dinilai sebagai bagian krusial dalam mendukung kelancaran distribusi dan pengelolaan rantai pasok bahan kimia strategis. Menurut Suryandi, pengembangan infrastruktur yang terintegrasi menjadi elemen penting dalam membangun ekosistem industri kimia nasional yang lebih efisien dan kompetitif.

Pabrik CA-EDC dirancang untuk menjawab kebutuhan industri domestik yang terus meningkat terhadap bahan kimia dasar strategis. Pada tahap awal operasional, fasilitas ini ditargetkan memiliki kapasitas produksi sebesar 827 ribu ton soda kaustik dan 500 ribu ton EDC per tahun. Produksi soda kaustik dari pabrik ini diproyeksikan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor sekaligus memperkuat pasokan bahan baku bagi berbagai sektor industri nasional.

Dalam jangka panjang, kapasitas produksi tersebut diperkirakan dapat menggantikan impor hingga 827 ribu ton per tahun, dengan nilai mencapai US$ 293 juta atau sekitar Rp4,9 triliun. Sementara itu, produksi EDC akan difokuskan untuk pasar ekspor. Langkah ini berpotensi mendatangkan devisa hingga US$ 300 juta atau sekitar Rp5 triliun per tahun, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri kimia regional.

Di luar kontribusinya terhadap penguatan industri nasional, proyek ini juga memberikan dampak ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja dan keterlibatan pelaku usaha lokal. Hingga saat ini, pembangunan pabrik telah melibatkan sekitar 3.000 tenaga kerja selama masa konstruksi. Saat mulai beroperasi penuh pada kuartal pertama 2027, fasilitas tersebut diperkirakan akan membuka sekitar 250 lapangan kerja baru.

Di pasar modal, saham TPIA ditutup anjlok 10,20 persen ke level Rp5.725 pada perdagangan Kamis (7/5). Sepanjang tahun berjalan, saham emiten milik Prajogo itu telah terkoreksi 18,21 persen.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar