The Fed Tahan Suku Bunga, Ekonom Sebut Indonesia Perlu Sikap Lebih Tegas Jaga Stabilitas

- Kamis, 30 April 2026 | 14:45 WIB
The Fed Tahan Suku Bunga, Ekonom Sebut Indonesia Perlu Sikap Lebih Tegas Jaga Stabilitas

Jakarta Keputusan The Fed menahan suku bunga ternyata bukan sekadar soal angka. Menurut Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, ini sinyal perubahan besar dalam pendekatan kebijakan global ke depan. Bukan main-main. Proyeksi ini makin kuat dengan munculnya nama-nama seperti Kevin Warsh. Figur yang satu ini dikenal cenderung membawa pendekatan kebijakan yang lebih berbasis realisasi. Bukan lagi sekadar forward guidance yang selama ini jadi andalan. “Kalau kebijakan global bergeser jadi less forward-looking dan lebih reactive terhadap realisasi inflasi serta risiko aktual, maka volatilitas bakal jadi the new normal,” ujar Fakhrul di Jakarta, Kamis, 30 April 2026, seperti dikutip dari Antara. Ia menambahkan, “Ini artinya negara seperti Indonesia harus jauh lebih sigap dan tegas dalam menjaga stabilitas.” Sebelumnya, The Fed memang memutuskan menahan suku bunga di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen pada Rabu, 29 April 2026. Keputusan ini, kata banyak pengamat, menegaskan satu hal: ketidakpastian global masih jadi realitas utama yang harus dihadapi semua negara. Termasuk Indonesia, tentu saja. Ketua The Fed, Jerome Powell, menunjukkan pendekatan yang makin hati-hati. Ini sinyal bahwa tekanan inflasi dan risiko global belum sepenuhnya mereda. Belum.

Dampak ke Nilai Tukar Rupiah

Nah, di dalam negeri, Fakhrul menyoroti kondisi rupiah yang saat ini sedang dalam fase overshooting. Istilah kerennya, tekanan nilai tukar bergerak melampaui fundamental jangka pendek. Lagi cari titik keseimbangan baru, katanya. “Rupiah saat ini sedang berada dalam fase overshooting, mencari kestabilan barunya di tengah tekanan global,” jelas Fakhrul. Ia melanjutkan, “Dalam fase seperti ini, pasar butuh sinyal yang jelas bahwa otoritas siap menjaga stabilitas. Begitu BI menunjukkan langkah siap melakukan monetary tightening, siap-siap rupiah akan bisa kembali menguat.” Oleh karena itu, ia menilai Bank Indonesia perlu mulai menunjukkan tightening bias yang lebih kuat. Ini soal menjaga kredibilitas dan meredam tekanan eksternal. “Respons hawkish dari Bank Indonesia menjadi penting, bukan hanya untuk menahan tekanan nilai tukar, tetapi juga untuk mengelola ekspektasi pasar. Ini bukan soal mengejar The Fed, tetapi soal menjaga kepercayaan terhadap stabilitas domestik,” tegasnya.

Kepastian Arah APBN

Di sisi fiskal, ceritanya sedikit berbeda. Fakhrul menyoroti pentingnya kepastian arah APBN. Termasuk penyesuaian terhadap program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah rasionalisasi dan kalibrasi belanja yang mulai dilakukan pemerintah, menurutnya, adalah sinyal positif bagi pasar. “Penyesuaian anggaran, termasuk dalam program MBG, menunjukkan bahwa pemerintah responsif terhadap dinamika fiskal dan tidak terjebak dalam rigiditas. Ini penting untuk menjaga kredibilitas APBN di tengah tekanan global yang meningkat,” katanya. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pasar saat ini butuh kejelasan. Target fiskal dan strategi pembiayaan harus jelas. Apalagi dengan potensi tekanan dari harga energi dan kebutuhan belanja domestik yang terus menganga. “Kepastian target APBN menjadi kunci. Pasar harus melihat bahwa pemerintah memiliki ruang dan fleksibilitas untuk melakukan penyesuaian tanpa mengorbankan disiplin fiskal. Ini akan menjadi jangkar utama kepercayaan investor,” ujar dia.

Reformasi Kebijakan dan Sinergi Antar Lembaga

Fakhrul juga menambahkan, berbagai reformasi yang sudah berjalan baik di sektor fiskal maupun pasar keuangan mulai menunjukkan dampak positif. Meskipun belum sepenuhnya tercermin dalam stabilitas pasar jangka pendek. Butuh waktu, mungkin. “Reform yang sudah dilakukan baik dari sisi transparansi pasar, pengelolaan fiskal, maupun koordinasi kebijakan harus terus dikomunikasikan secara konsisten dan terukur. Jangan biarkan pasar dan masyarakat blank. Ini penting agar pasar memahami bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah volatilitas global,” tambahnya. Sinergi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, kata dia, kini memasuki fase yang lebih menentukan. Kebijakan tidak hanya harus tepat, tetapi juga harus terlihat kredibel dan siap dieksekusi. Bukan sekadar wacana. “Masyarakat dan pasar saat ini tidak hanya butuh kebijakan yang benar, tetapi juga kepastian bahwa kebijakan tersebut akan dijalankan dengan disiplin dan fleksibilitas. Kehati-hatian pengambil kebijakan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas sekaligus kepercayaan,” jelas dia. Pada akhirnya, Fakhrul menegaskan bahwa dunia saat ini tidak lagi memberikan kemewahan berupa kepastian. Kemampuan untuk beradaptasi menjadi faktor penentu keberhasilan kebijakan ekonomi. “Kita tidak bisa menunggu dunia stabil untuk bertindak. Justru dalam ketidakpastian inilah ketegasan dan kehati-hatian harus berjalan bersamaan. Karena stabilitas bukan datang dari dunia yang tenang, tetapi dari kebijakan yang siap menghadapi badai,” tutupnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar