Nur Ainia Eka Rahmadhynna, atau yang akrab disapa Aini, menjadi salah satu korban meninggal dalam kecelakaan tragis antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Peristiwa itu merenggut nyawanya. Kini, sang ayah, Hary Marwata, hanya bisa mengenang.
Di usianya yang ke-63, Hary harus merelakan putri sulungnya pergi untuk selamanya. Ia bercerita usai pemakaman Ain di TPU Mangun Jaya, Kabupaten Bekasi, Rabu (29/4/2026). Suaranya pelan, tapi jelas.
“Dia anaknya nggak banyak ngerepotin. Kalau misal berangkat pagi nggak pernah bangunin orang tua, dia udah ini (pergi), tahu-tahu udah pokoknya tahu sorenya udah pamit berangkat jam 3, ya udah. Dia nggak pernah ngerepotin,” ujar Hary, mengenang kebiasaan putrinya yang selalu mandiri.
Menurut Hary, Ain adalah sosok yang tangguh. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga bagi keluarga. Setelah sang ayah pensiun, Ain perlahan mengambil peran sebagai tulang punggung. Ia membantu perekonomian keluarga tanpa banyak bicara.
“Sedikit banyak bisa dibilang gitulah, tulang punggung. Karena ayahnya kebetulan sudah pensiun,” katanya.
Di sisi lain, keluarga juga kehilangan sosok yang perhatian. Ain dikenal sayang banget sama adik-adiknya. Bahkan, ia tak segan menegur jika adiknya berbuat salah. Bukan marah-marah, tapi tegas. Itu yang membuatnya dikenang.
Kini, rumah terasa lebih sepi. Tapi kenangan tentang Ain yang tak pernah merepotkan, yang selalu pergi pagi tanpa suara akan terus ada. Selamanya.
Artikel Terkait
Tiga Mahasiswi di Bali Jadi Operator Telemarketing Judi Online, Iming-Iming Gaji Besar
KRL Cikarang Kembali Normal Usai Tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek, Lima Stasiin Beroperasi Lagi
Hasil UTBK SNBT 2026 Diumumkan 25 Mei, Cek Jadwal dan Cara Aksesnya
KRL Lintas Cikarang Kembali Normal, Korban Tewas Tabrakan di Bekasi Timur Bertambah Jadi 16 Orang