Inovasi atau mati! Kurang lebih begitulah yang ditanamkan ke kepala saya sejak hampir 20 tahun lalu bergabung di detikcom. Waktu itu saya seperti dicuci otak terus-terusan dengan jargon itu.
Seolah-olah inovasi adalah harga mati. Yang lain, ya, kayak anak tiri aja. Pandangan itu sih nggak sepenuhnya salah. Tapi kalau lihat zaman sekarang, saya rasa ada satu hal yang lebih fundamental yang harus kembali jadi roh kami: trust. Kepercayaan.
Ngomong-ngomong soal kepercayaan, PT Trans Digital Media atau yang kita kenal sebagai detikcom baru saja menggelar RUPS pada Selasa, 28 April 2026. Di situ saya, Ardhi Suryadhi, diberi amanah sebagai Direktur Konten sekaligus Pimpinan Redaksi. Saya menggantikan Alfito Deannova Gintings. Bersamaan dengan itu, MURIANETWORK.COM Pratama diangkat jadi Wakil Pemimpin Redaksi, menggantikan Elvan Dani Sutrisno.
Buat saya pribadi, ini bukan sekadar ganti orang. Ini lebih seperti estafet. Sebuah tongkat yang diserahkan untuk menjaga marwah jurnalisme di tengah segala ketidakpastian. Nah, unsur 'kepercayaan' inilah yang ingin kami bawa sebagai nakhoda baru. Baik ke dalam buat internal maupun ke luar, ke publik.
Redaksi itu kan ibarat dapur. Tempat di mana informasi dimasak, dibumbui, lalu disajikan. Nah, para koki di dapur ini perlu sadar: dunia sudah berubah. Cara memasak juga nggak bisa pakai resep lama yang itu-itu aja. Harus ada yang baru.
Di sisi lain, media memang bukan konten kreator di sosial media yang bisa bebas berkreasi tanpa batasan UU Pers. Tapi justru di situ letak peluangnya. Kami ingin menyodorkan informasi yang terpercaya. Yang sudah terverifikasi. Bukan sekadar viral.
detikcom harus hadir di mana pun pembaca berada. Kalau audiens kami ada di TikTok, ya kami akan ada di TikTok. Kalau mereka pindah ke Instagram, atau platform masa depan lain yang belum lahir, kami juga akan ada di sana. Dengan format yang mereka suka. Tapi satu yang nggak bisa ditawar: standar verifikasi. Itu harga mati.
Kita hidup di zaman di mana informasi melimpah ruah. Tapi kebenaran? Seringkali justru langka. Di tengah gempuran media sosial yang mengandalkan kecepatan algoritma dan luapan emosi, detikcom harus jadi jangkar. Sesuatu yang tetap tegak, yang bisa dipegang.
Dulu, satu dekade lalu, tantangan besarnya adalah migrasi dari cetak ke digital. Sekarang? Jauh lebih rumit. Kita harus menjaga integritas di tengah ekosistem media sosial yang suka menciptakan ruang gema echo chambers, katanya. Belum lagi ancaman disinformasi yang diproduksi massal oleh kecerdasan buatan. AI. Di sinilah 'kehormatan' itu harus kita jaga mati-matian.
Dua puluh tahun lalu, saya belajar cara mengetik berita di sini. Hari ini, saya belajar cara menjaga kepercayaan jutaan rakyat Indonesia. Ini maraton, bukan sprint. Dan kami di detikcom siap berlari lebih jauh.
Artikel Terkait
Kemendikdasmen Ubah Sistem Pencairan Tunjangan Profesi Guru dari Triwulanan Menjadi Bulanan
Pertemuan Purnawirawan TNI Dinilai Jadi Kanal Informal Jaga Stabilitas Politik, Absennya SBY dan Luhut Tuai Sorotan
Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan Komandan Hamas dan Bocah 9 Tahun
Jenazah Karyawan Kompas TV Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur Teridentifikasi