Wali Kota Tel Aviv: Lebih dari 1.000 Apartemen Rusak Parah Akibat Serangan Iran

- Senin, 20 April 2026 | 16:05 WIB
Wali Kota Tel Aviv: Lebih dari 1.000 Apartemen Rusak Parah Akibat Serangan Iran

Tel Aviv masih menghitung kerusakan. Lebih dari seribu rumah di ibu kota Israel itu kini dalam kondisi rusak parah, tak layak huni lagi. Ini adalah dampak langsung dari perang yang meledak melawan Iran beberapa waktu silam.

Menurut sejumlah saksi, serpihan logam dan rudal yang berhasil ditangkis justru menghujani permukiman. Kawasan seperti Ramat Gan dan Bnei Brak juga tak luput. Akibatnya, bangunan-bangunan berpenghuni itu luluh lantak.

Wali Kota Tel Aviv, Ron Huldai, mengonfirmasi keadaan ini. Ia tampil di televisi lokal Channel 12, dengan wajah lesu.

"Lebih dari 1.000 apartemen di Tel Aviv tidak lagi layak huni," ujarnya.

Kerusakan itu, jelasnya, bersumber dari hantaman rudal dan drone Iran yang beruntun. Laporannya sendiri dikutip media seperti Anadolu Agency dan Middle East Monitor, Senin (20/4/2026).

Perang ini sendiri sudah berkecamuk sejak akhir Februari. Teheran melancarkan serangan balasan ke kota-kota besar Israel, tak cuma sekali. Mereka menyebutnya sebagai respons atas serangan skala besar di wilayah mereka sendiri. Konflik ini melibatkan AS dan Israel di satu sisi, Iran di sisi lain dan tensinya belum juga mereda.

Korban jiwa dan luka-luka berjatuhan, meski angka pastinya simpang siur. Pemerintah Israel dianggap kurang transparan mengungkap data korban ke publik. Yang jelas, dampaknya terasa di mana-mana: rumah hancur, kendaraan ringsek, infrastruktur publik pun tak utuh lagi.

Di sisi lain, beban ekonomi mulai terhitung. Channel 12 melaporkan awal pekan ini, para pejabat memperkirakan biaya perang 40 hari melawan Iran dan Lebanon markas Hizbullah mencapai angka fantastis: sekitar 17,5 miliar dolar AS.

Itu belum termasuk, lho, biaya untuk membangun kembali semua yang hancur. Belum lagi kerugian karena sebagian ekonomi Israel terpaksa mandek selama pertempuran berlangsung. Situasinya memang suram.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar