Pantau - Industri furnitur dan kerajinan kita lagi di ujung tanduk. Biaya energi yang melambung, ditambah tekanan pasar global, bikin pelaku usaha was-was. Nah, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) pun angkat bicara. Mereka bilang, butuh banget kebijakan yang terukur dan pas sasaran biar daya saing nasional nggak tergerus.
Abdul Sobur, Ketua Umum HIMKI, ngasih penjelasan. Menurut dia, sektor hilir kayak furnitur ini rentan banget. Goyahan sedikit aja di biaya produksi atau dinamika ekspor, langsung berasa dampaknya.
“Sektor hilir seperti furnitur dan kerajinan punya sensitivitas tinggi terhadap perubahan biaya. Di sisi lain, ruang untuk menyesuaikan harga di pasar global sangat terbatas,” ujarnya.
Soal tantangan, Sobur merinci beberapa poin. Mulai dari kenaikan harga energi yang bikin pusing, keterbatasan bahan baku, sampai hambatan operasional sehari-hari. Belum lagi urusan likuiditas ekspor yang kadang nggak lancar, padahal industri ini menyerap banyak tenaga kerja.
Kunci Bertahan: Bahan Baku dan Arus Kas
Kalau mau produksi tetap jalan, dua hal ini krusial: pasokan bahan baku harus lancar dan pengelolaan arus kas perlu fleksibel. Di sinilah peran kebijakan pemerintah dinanti. Kebijakan yang tepat bukan cuma bisa meredam tekanan, tapi juga menjaga kontribusi sektor ini terhadap devisa negara.
Artikel Terkait
AHY Tekankan Pentingnya Infrastruktur dan Kepemimpinan dalam Audiensi dengan Pelajar SMA
Komplotan Bersenjata Api Bobol Motor di Parkir RSIA Duren Sawit
AHY Tekankan Peran Vital Kampus dan Koordinasi Lintas Sektor untuk Pembangunan Berkelanjutan
Gubernur DKI Bebastugaskan Lurah dan Dua Pejabat Terkait Bukti Palsu Aduan Warga