Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Senin (13/4/2026). Padahal, situasi geopolitik di Timur Tengah masih panas dengan adanya blokade AS di Selat Hormuz. Tapi rupanya, sentimen itu kalah oleh gelombang aliran dana investor yang justru berani menuju aset berisiko.
Data dari Investing.com menunjukkan, harga emas spot (XAU/USD) tercatat turun tipis 0,1% ke level USD 4.745,13 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas anjlok lebih dalam, 0,4%, menjadi USD 4.768,07 per ons.
Blokade Hormuz dan Negosiasi yang Mentok
Presiden Donald Trump secara resmi mengonfirmasi pemberlakuan blokade di Selat Hormuz mulai pukul 10:00 waktu AS. Kebijakan ini, kata Trump, berlaku ketat untuk kapal-kapal yang hendak masuk atau keluar dari pelabuhan Iran.
Meski begitu, Pentagon memberi catatan. Mereka menyatakan kapal yang sekadar melintas dan tidak bertujuan ke Iran masih diizinkan lewat.
Trump sendiri mengungkapkan, ada 34 kapal yang berhasil melintasi selat itu pada hari Minggu. "Ini jumlah tertinggi sejak penutupan yang tidak masuk akal ini dimulai," ujarnya.
Blokade ini adalah kelanjutan dari situasi yang sudah memanas. Sebelumnya, negosiasi marathon selama 21 jam antara AS dan Iran di Pakistan berakhir tanpa titik terang. Gagalnya diplomasi itu memperpanjang ketegangan, meski gencatan senjata selama dua pekan secara teknis masih berlaku.
(Ilustrasi. Foto: Dok Bappebti)Dampaknya langsung terasa di pasar energi. Harga minyak sempat melonjak dan menembus USD 100 per barel, tapi kemudian kehilangan momentum dan berbalik turun. Guncangan semacam ini memicu kekhawatiran serius. Inflasi global berpotensi melonjak akibat biaya energi yang meroket, sebuah kekhawatiran yang sudah terbukti dari data inflasi AS bulan Maret lalu.
Spekulasi Suku Bunga dan Dolar yang Perkasa
Di tengah semua gejolak ini, ada faktor lain yang justru lebih kuat mendikte pergerakan emas: spekulasi suku bunga The Fed. Dengan inflasi yang dipicu energi masih mengancam, banyak investor mulai meragukan rencana bank sentral AS untuk memotong suku bunga di tahun 2026.
Peluang pemotongan suku bunga 25 basis poin pada Desember, menurut alat FedWatch CME, berfluktuasi liar. Dari 21% sehari sebelumnya, sempat melonjak ke 16% dan akhirnya mengendap di 27% pada Senin. Lingkungan suku bunga tinggi itu jelas tidak ramah untuk emas, aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Parahnya, reputasi emas sebagai 'safe haven' atau pelindung nilai di masa krisis pun sedang diuji. Sejak perang meletus akhir Februari, harga emas spot justru terpangkas lebih dari 10%. Aliran modal malah berbondong-bondong ke dolar AS, yang semakin menguat dan membuat logam kuning ini semakin mahal bagi pembeli dari luar negeri.
Lantas, apa prospek emas ke depan?
Menurut Laurence Booth, kepala pasar global di CMC Markets, momentum bisa kembali jika ketegangan geopolitik mereda. "Namun, emas dapat kembali mendapatkan momentum jika terjadi penurunan ketegangan geopolitik," katanya kepada Investing.com.
Analis lain, David Morrison dari Trade Nation, melihat kerentanan baru emas. "Harga emas turun semalam. Aksi jual tersebut menyoroti kerentanan emas yang baru ditemukan terhadap risiko geopolitik sekaligus menghancurkan reputasinya sebagai 'aset aman' di masa-masa sulit," ujarnya.
Morrison menambahkan, hubungan invers dengan dolar AS kini jadi penentu utama. "Sebaliknya, pendorong utama harga emas tampaknya adalah dolar AS... sebuah hubungan yang bisa tampak solid, sampai tiba-tiba runtuh."
Untuk saat ini, kata Morrison, para investor bullish butuh harga bertahan di atas USD 4.800 untuk memulai rally yang berarti. Sementara para bearish justru menunggu tes ulang ke level USD 4.400.
Artikel Terkait
Sapi Kurban 1,1 Ton Bertuliskan TIW Dikirim ke Masjid Terdekat Rumah Amien Rais
Peneliti BRIN Dimas Fajar Prasetyo Bantah Terlibat Jurnal Bodong, Sebut Identitasnya Dicatut
Khofifah Tinjau Pasar Klojen, Dorong Koordinasi Daerah Jaga Stabilitas Harga dan Pasokan Pangan
BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Waisak 2026, Sejumlah Wilayah Berpotensi Hujan Ringan