Warga Kampung Sekip Semarang Bertahan di Pengungsian, Janji Relokasi Masih Menggantung

- Senin, 06 April 2026 | 20:30 WIB
Warga Kampung Sekip Semarang Bertahan di Pengungsian, Janji Relokasi Masih Menggantung

Sudah satu setengah bulan berlalu. Tapi, bagi puluhan warga Kampung Sekip di Semarang, waktu seolah berjalan di tempat. Mereka masih bertahan di tenda-tenda pengungsian, menunggu kepastian yang tak kunjung datang. Janji relokasi dari pemerintah? Hanya jadi tanda tanya besar yang menggantung.

Sore Kamis (2/4/2026) itu, di balik terik yang mulai mereda, Suprihati (51) terlihat sibuk di dapur umum. Lokasinya tak jauh dari rumah mereka yang rusak, cuma seratus meteran. Tapi, jarak itu terasa seperti jurang pemisah antara kehidupan lama dan masa depan yang samar.

“Kami masak bersama-sama, dibagi dua tim: tim pagi dan tim sore,”

katanya sambil menyiapkan makan malam untuk semua penghuni tenda. Suaranya lirih, tapi tetap terdengar upaya untuk tetap tegar.

Lima tenda berjejer di sebuah lahan kosong yang dikelilingi pepohonan. Satu tenda bisa dihuni sepuluh orang, menampung dua sampai tiga keluarga sekaligus. Kondisinya jauh dari nyaman, apalagi di musim hujan seperti sekarang.

Air hujan mudah saja merembes masuk, terutama lewat jendela tenda. Tapi apa daya? Ini satu-satunya tempat berteduh yang mereka punya. “Sebenarnya tinggal di sini serba sulit semua. Tapi kami mau bagaimana lagi, pokoknya dibikin happy saja,” ujar Suprihati mencoba tersenyum.

Di sisi lain, fasilitas dasar sebenarnya tersedia. Ada bangunan semipermanen untuk kamar mandi, toren air bersih yang cukup besar, dan listrik sudah dialirkan. Bantuan sembako juga rutin datang. Masalahnya bukan di situ.

Yang membuat hati mereka tak tenang adalah ketidakpastian. Tanah di kampung mereka masih terus bergerak, bahkan makin parah. Jalan depan rumah Suprihati ambles hampir dua meter. Mustahil untuk kembali.

“Tanah geraknya masih terjadi terus. Sekarang malah tambah amblas,”

ungkapnya prihatin.

Ada kabar bahwa pada 16 April nanti mereka harus pindah dari lokasi pengungsian ini. Pemerintah berjanji akan mencarikan tempat tinggal. Tapi bagi Suprihati dan warga lainnya, janji itu masih terasa sangat abstrak.

“Pemerintah janjinya mau dicarikan tempat tinggal. Tapi enggak tahu sih, nanti tunggu tanggal 16 jadinya bagaimana,”

ucapnya dengan nada pasrah yang bercampur harap.

Hari demi hari mereka lalui dalam tenda yang lembap. Menunggu. Berharap. Sambil terus bertanya dalam hati: kapan kehidupan normal mereka benar-benar bisa dimulai lagi?

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar