Ekspor Jatim Tergerus, Defisit Perdagangan Capai US$1,17 Miliar Awal 2026

- Senin, 06 April 2026 | 17:15 WIB
Ekspor Jatim Tergerus, Defisit Perdagangan Capai US$1,17 Miliar Awal 2026

SURABAYA Awal tahun 2026 membawa kabar kurang menggembirakan bagi perekonomian Jawa Timur. Neraca perdagangannya tercatat defisit. Penyebabnya klasik, tapi tetap mengkhawatirkan: ekspor yang melemah sementara impor justru melonjak.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, yang dirilis Senin (6/4), mengonfirmasi tren ini. Herum Fajarwati, sang Plt. Kepala BPS, memaparkan bahwa nilai ekspor pada dua bulan pertama tahun ini hanya mencapai US$4,02 miliar. Angka itu turun tipis, sekitar 0,54%, dibanding periode sama tahun 2025.

“Ekspor nonmigas pun ikut merosot, meski sangat kecil, hanya 0,04%,” ujar Herum.

Kalau dilihat per bulan, Februari 2026 justru lebih suram. Ekspor Jatim anjlok 5,48% dibanding Februari tahun lalu, hanya US$1,97 miliar. Ekspor nonmigasnya juga ikut terperosok, turun lebih dari 5%.

Namun begitu, bukan berarti tak ada secercah cahaya. Ada satu kelompok komoditas yang justru menunjukkan performa gemilang: lemak dan minyak hewani atau nabati. Nilainya melonjak drastis, naik lebih dari US$107 juta atau setara 32%. Pencapaian yang cukup signifikan.

Sayangnya, sorotan positif itu tenggelam oleh penurunan besar di komoditas lain. Tembaga, misalnya, catatannya suram. Ekspornya merosot US$57,48 juta atau sekitar 16%.

Secara sektoral, industri pengolahan masih bisa diandalkan. Ekspornya tumbuh positif 1,8%. Tapi dua sektor lain justru jeblok. Ekspor pertanian ambruk hingga 31%, sementara pertambangan dan sejenisnya juga ikut merosot.

Di sisi lain, ceritanya jadi lain saat kita beralih ke angka impor. Di sini, grafiknya justru naik tajam. Secara kumulatif Januari-Februari, impor Jatim membengkak 13% menjadi US$5,19 miliar.

“Pendorong utamanya adalah impor nonmigas yang naik sangat tinggi, hampir 24%,” jelas Herum.

Untungnya, impor migas justru turun cukup dalam, sekitar 31%. Tapi itu tak cukup untuk menahan laju kenaikan secara keseluruhan.

Yang menarik, komoditas impor yang naik paling fantastis adalah perhiasan dan permata. Kenaikannya luar biasa, hampir 468% atau setara US$514 juta. Sebaliknya, impor besi dan baja justru mengalami penurunan terbesar, nyaris 29%.

Dari sisi penggunaannya, impor bahan baku masih mendominasi dengan peningkatan 12,4%. Impor barang modal juga tumbuh pesat, lebih dari 26%. Ini mungkin sinyal bahwa aktivitas industri dalam negeri masih berdenyut, meski bahan bakunya banyak diimpor.

Akibat dari kondisi yang bertolak belakang ini, defisit perdagangan pun tak terhindarkan. Jatim mencatatkan defisit US$1,17 miliar hanya dalam dua bulan.

Rinciannya, defisit datang dari kedua sektor: migas menyumbang US$576,72 juta dan nonmigas US$594,80 juta.

“Defisit ini menunjukkan tekanan eksternal masih kuat,” tutur Herum menutup paparannya.

Intinya, kebutuhan dalam negeri yang tinggi tercermin dari lonjakan impor belum bisa diimbangi oleh kemampuan ekspor. Sebuah tantangan lama yang kembali menghadang di awal tahun.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar