Survei: Hampir Separuh Pelajar di Bandung Alami Indikasi Masalah Kesehatan Jiwa

- Rabu, 25 Februari 2026 | 18:30 WIB
Survei: Hampir Separuh Pelajar di Bandung Alami Indikasi Masalah Kesehatan Jiwa

Hasilnya cukup mencengangkan. Dari Agustus hingga Oktober 2025 lalu, Pemerintah Kota Bandung menggelar pemeriksaan kesehatan gratis untuk pelajar. Yang diperiksa tak kurang dari 148.239 siswa. Dan nyaris separuhnya tepatnya 71.433 anak atau 48,19 persen ternyata menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa.

Kalau dirinci, angkanya makin jelas. Di tingkat SMP dan MTs, temuan tertinggi tercapai: sekitar 49,09 persen siswanya mengalami gejala gangguan kejiwaan. Mayoritas didominasi gejala kecemasan ringan, tapi tak sedikit juga yang sampai ke level depresi berat. Misalnya, 76,46 persen siswa SMP/MTs punya gejala ansietas ringan. Lalu ada 7,89 persen yang terindikasi ansietas berat. Untuk depresi, 15,23 persen gejalanya ringan, sementara 7,42 persen lainnya sudah masuk kategori berat.

Di jenjang SD dan MI, dari 80.724 peserta, lebih dari setengahnya (53,75 persen) juga terindikasi masalah serupa. Gejala yang paling banyak muncul lagi-lagi kecemasan dan depresi ringan. Sementara di SMA/MA, angkanya 25,79 persen. Untuk siswa SLB, persentasenya mencapai 48,51 persen.

Melihat data itu, Psikolog dari Fakultas Psikologi UGM, Diana Setyawati, angkat bicara. Dia menyoroti kerentanan generasi Alpha mereka yang lahir dan besar di era digital terhadap tekanan psikologis.

“Dunia maya memberikan insecurity yang sangat besar. Anak-anak semakin banyak tahu banyak hal, sayangnya beberapa informasi yang didapatkan justru membuat insecurity semakin tinggi,” ujar Diana, seperti dikutip Rabu, 25 Februari 2026.

Menurutnya, nilai-nilai yang membentuk anak sekarang ini banyak dibentuk oleh algoritma media sosial, bukan lagi dari keluarga. Lingkungan digital yang mereka huni kerap didominasi konten instan, hedonisme, dan gaya hidup serba wah.

“Jika keluarga tidak menanamkan nilai dari rumah, maka fungsi keluarga itu akan diambil alih oleh apa yang mereka lihat di dunia maya,” tegas akademisi itu.

Nah, soal penanganannya, Diana bilang upaya pencegahan harus benar-benar dimulai dari rumah. Orang tua perlu paham betul tentang kesehatan mental. Anak yang sehat mentalnya, kata dia, biasanya bisa mengenali potensi dirinya, punya tujuan hidup, dan mampu mengelola stres sehari-hari dengan baik.

“Saya pikir orang tua perlu memahami ciri-ciri kesehatan mental bagi anak, sehingga ketika melihat anak menunjukkan perubahan perilaku, mereka memahami apa yang terjadi dan bagaimana cara memberikan pertolongan,” ucap Diana.

Dia juga mengingatkan bahwa persoalan ini adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah, misalnya, harus memberikan edukasi tentang keterampilan berkeluarga. Sekolah perlu mengadopsi pendekatan School-Based Mental Health. Sementara keluarga sendiri harus diperkuat agar bisa jadi pondasi utama kesehatan mental anak.

“Pelayanan kesehatan juga harus siap ketika kesadaran masyarakat mulai meningkat,” tegasnya.

Intinya, Diana menekankan, sistem kesehatan mental harus dibangun sedini mungkin. Promosi dan pencegahan secara holistik itu kunci. Tujuannya satu: agar generasi muda bisa tumbuh optimal, dengan kesehatan emosional yang terjaga.

“Kita harus membangun sistem kesehatan mental yang kuat. Promosi dan prevensi secara holistik harus dilakukan. Jangan sampai generasi kita tumbuh dengan kerentanan yang tidak tertangani,” pungkas Diana.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar