Kades Purwasaba Bantah Hoaks Boikot Jabatan Terkait Teguran Menteri Soal Tato

- Rabu, 25 Februari 2026 | 09:45 WIB
Kades Purwasaba Bantah Hoaks Boikot Jabatan Terkait Teguran Menteri Soal Tato
Hoaks Seputar Kades dan Menteri, Ini Penjelasannya

Hoaks Seputar Kades dan Menteri, Ini Penjelasannya

Belakangan ini, ramai beredar narasi yang menyebut Kepala Desa Purwasaba, Banjarnegara, Hoho Alkaf, diboikot dari jabatannya. Penyebabnya? Konon, ia ditegur menteri karena tato di sekujur tubuhnya. Ternyata, cerita itu sama sekali tidak benar. Faktanya, ini adalah berita bohong yang sengaja disebar.

Semuanya berawal dari sebuah video lama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto. Dalam rapat internal di tahun 2025 silam, sang menteri memang membahas soal oknum pegawai di Bali yang ketahuan memeras WNA dan memiliki tato penuh. Agus menegaskan, seorang ASN tak pantas berbuat kriminal dan berpenampilan semaunya.

Nah, potongan video itulah yang kemudian diedit sedemikian rupa oleh sejumlah akun di Facebook, Instagram, hingga TikTok. Mereka menyelipkan foto Hoho Alkaf dan membumbuinya dengan narasi palsu seolah dialah yang dimaksud sang menteri. Alhasil, konten itu pun viral dan menyesatkan banyak orang.

Menyikapi hal ini, Hoho Alkaf akhirnya angkat bicara. Dalam sebuah video yang diunggah di akun Facebooknya, Rabu (25/2/2026), ia dengan tegas membantah klaim tersebut.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Menanggapi video-video yang beredar di sosial media, itu adalah video yang sudah lama sekali. Dan beliau saat itu membahas tato, bukan dengan saya. Kalau tidak salah, itu salah satu pegawai Imigrasi di Bali yang melakukan pelanggaran hukum. Supaya ditindak tegas, itu," jelas Hoho.

Ia pun geram dengan ulah para netizen yang seenaknya mengedit dan memelintir fakta. Menurutnya, hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.

"Saya sangat menyayangkan para netizen. Untuk apa diedit-editsedemikian rupa? Hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan saya," ujarnya lagi.

Di sisi lain, Hoho justru mengaku punya hubungan yang baik dengan Menteri Agus. Bahkan, mereka beberapa kali sempat berbincang lewat panggilan video. Karena itulah, ia merasa kecewa dengan konten yang menciptakan kesan sebaliknya.

Ia pun mengimbau agar pengguna media sosial lebih bijak. Jangan sampai keinginan untuk viral atau menambah followers membuat seseorang menghalalkan segala cara, termasuk menyebar hoaks.

"Saya mohon, jangan karena pingin videonya fyp, followersnya bertambah, lalu melakukan pengeditan seperti itu. Saya rasa itu hal yang tidak baik dan tidak penting," seru Hoho.

Terakhir, ia berpesan agar publik tidak mudah percaya. Setiap melihat konten mencurigakan, cek dulu jejak digitalnya. Telusuri sumber aslinya. Video menteri itu sudah lebih setahun, sementara isu ini baru dimunculkan. "Saya mohon, stoplah untuk hal-hal kayak gitu," pungkasnya.

Penjelasan Hoho ini langsung mendapat respons dari warganet. Banyak yang menyayangkan beredarnya hoaks tersebut dan meminta maaf karena sempat terkecoh.

"Berarti saya salah ikut komentar. Saya minta maaf. Saya suka sepak terjang Kades Hoho dalam membangun. Maka kalau ada yang menjelekkan, saya tidak terima," tulis seorang netizen bernama Wa Gino.

"Sejak adanya FB pro, banyak orang menghalalkan segala cara demi cuan yang tak seberapa dibanding dosa fitnahnya," komentar akun Vict.

"Alhamdulillah baru tahu setelah penjelasan Mas Kades. Dari awal aku udah nggak yakin atas video tersebut karena yang dituju pegawai, bukan Kades. Matur suwun atas informasinya," timpal Den Sugeng Indragiri.

Jadi, sudah jelas. Kasus ini adalah contoh nyata betapa cepatnya hoaks menyebar dan mengaburkan fakta. Pesannya sederhana: jangan mudah share sebelum klarifikasi.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar