Dia menceritakan pengalaman pribadi di mana kerabat dekatnya yang memiliki masalah kesehatan terpaksa beralih menggunakan stasiun lain atau bahkan meninggalkan moda KRL karena kendala tersebut. Harapannya jelas: adanya lift di stasiun tersebut.
Dalam pandangannya, jika pembangunan lift terkendala biaya, alternatif lain seperti jalur penyeberangan di atas rel bisa dipertimbangkan. "Kalau solusi ini udah nggak bisa dilakuin karena risiko, ya mikirin risiko penumpang juga dong," tambahnya.
Perbandingan dengan Stasiun Lain dan Dampaknya
Keluhan serupa disampaikan oleh warga lain, Tania (22). Ia menilai fasilitas kursi roda yang tersedia menjadi tidak berarti tanpa adanya lift untuk menyeberang peron.
Dia juga membandingkan dengan stasiun lain yang dianggap lebih memiliki solusi. "Terus walaupun nggak ada lift, kalau Stasiun Depok Lama masih ada jalan di bawah kalau ada yang mau lewat pintunya dibukain dulu sama satpam. Nah Stasiun Depok Baru nggak ada samsek, dia cuma underpass tangga doang," lanjutnya.
Observasi ini menggarisbawahi sebuah kesenjangan antara penyediaan fasilitas dasar di area peron dengan solusi mobilitas vertikal yang menyeluruh. Ketidaktersediaan akses yang inklusif tidak hanya menyulitkan, tetapi pada akhirnya dapat mengisolasi kelompok tertentu dari penggunaan layanan transportasi publik yang seharusnya dapat diakses oleh semua kalangan.
Artikel Terkait
UU HKPD Ancam TPP Ribuan ASN di Bangka Barat
Bangka Belitung Terapkan WFH untuk ASN, Layanan Publik Tetap Berjalan
Wisatawan Tewas Hanyut di Air Terjun Tibu Ijo Lombok Barat
Kim Geonwoo ALPHA DRIVE ONE Hiatus, Grup Lanjut Promosi dengan Tujuh Anggota