MURIANETWORK.COM - PT Astra International Tbk (ASII) memproyeksikan pasar otomotif nasional akan lebih bergairah pada 2026, seiring dengan target penjualan industri mobil yang dipatok Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sebesar 850.000 unit. Proyeksi optimistis ini muncul setelah tahun 2025 yang mencatatkan koreksi penjualan, meski awal tahun ini menunjukkan sinyal pemulihan dengan pertumbuhan penjualan ritel dan peningkatan pangsa pasar Astra.
Pemulihan di Awal Tahun dan Target Industri
Setelah melewati periode lesu sepanjang 2025, industri otomotif Indonesia menunjukkan tanda-tanda kebangkitan di awal 2026. Data penjualan wholesale atau dari pabrik ke dealer pada Januari lalu mencapai 66.446 unit, tumbuh 7,02% dibandingkan realisasi di bulan yang sama tahun sebelumnya. Angka ini memberikan angin segar bagi pelaku industri, termasuk Astra, yang berkontribusi 34.867 unit atau sekitar 52% dari total pasar. Pencapaian ini sedikit lebih tinggi dibandingkan kontribusi perseroan sepanjang 2025 yang berada di level 51%.
Meski demikian, perjalanan menuju target 850.000 unit tahun ini tidak sepenuhnya mulus. Tahun lalu, penjualan wholesale hanya mencapai 803.687 unit, turun 7,2% dari 2024. Tekanan serupa juga terasa di penjualan ritel, yang anjlok 6,3%. Kondisi ini menjadi latar belakang mengapa optimisme untuk 2026 perlu disikapi dengan kehati-hatian, meski data awal terlihat menggembirakan.
Strategi dan Portofolio Menjawab Pasar
Di tengah dinamika pasar, Astra mengandalkan kekuatan portofolio mereknya yang beragam. Pada Januari 2026, penjualan Toyota dan Lexus tercatat 20.127 unit, mengalami penurunan. Namun, kinerja ini berhasil diimbangi oleh lompatan signifikan penjualan Daihatsu yang mencapai 12.513 unit, naik 25,34% secara tahunan.
Windy Riswantyo, Head of Corporate Communications Astra, menyatakan harapannya agar sentimen konsumen membaik sepanjang tahun ini. "Secara umum kami berharap consumer sentiment tahun 2026 akan lebih baik dibandingkan tahun 2025 sehingga dapat mendukung pencapaian target dari Gaikindo," ungkapnya.
Windy juga menjelaskan strategi perseroan dalam menghadapi diversifikasi teknologi. Ia mengakui kendaraan konvensional mesin pembakaran internal (ICE) masih akan mendominasi, namun pertumbuhan kendaraan listrik baterai (BEV) dan hibrida (HEV) tidak bisa diabaikan. "Untuk menjawab kebutuhan yang beragam, Astra menawarkan portofolio yang lengkap mulai dari ICE, hybrid, plug-in hybrid, hingga BEV yang tentu diharapkan dapat memperluas pasar otomotif nasional," tuturnya.
Untuk menangkap momentum, Astra secara konsisten melakukan penyegaran produk. Beberapa langkah terbaru termasuk memperkenalkan Toyota Veloz HEV dan sejumlah lini hibrida baru seperti New Alphard dan New Yaris Cross, menunjukkan komitmen mereka di berbagai segmen.
Analis Melihat Prospek Pemulihan
Optimisme terhadap sektor otomotif 2026 juga tercermin dari pandangan sejumlah analis sekuritas. Ciptadana Sekuritas, misalnya, bahkan lebih optimistis dengan memproyeksikan penjualan bisa menembus 900.000 unit. Analis mereka, Christopher Rusli, melihat adanya momentum perbaikan yang dimulai di akhir 2025.
"Kami memperkirakan pemulihan yang lebih kuat pada 2026 didukung oleh latar belakang makro ekonomi yang membaik. Penangguhan sementara insentif EV juga diprediksi akan menguntungkan permintaan segmen ICE dan HEV," jelas Christopher dalam risetnya.
Ciptadana memproyeksikan pangsa pasar Grup Astra bisa kembali naik ke level 55% tahun ini, didorong oleh posisi kuatnya di segmen konvensional dan hibrida.
Sementara itu, analis Maybank Sekuritas, Paulina Margareta, menyampaikan optimisme yang lebih berhati-hati dengan ekspektasi pertumbuhan volume industri sekitar 5%. Ia mengingatkan sejumlah tren yang akan tetap berlangsung, seperti agresivitas produsen China, peningkatan penetrasi kendaraan listrik, dan kecenderungan konsumen beralih ke model entry-level.
"Kami tetap optimistis secara hati-hati terhadap sektor otomotif Indonesia," ucap Paulina. Meski demikian, Maybank tetap merekomendasikan beli untuk saham ASII dengan target harga Rp6.700.
Sentimen Pasar dan Rekomendasi Saham
Di pasar modal, saham ASII tercatat diperdagangkan di level Rp6.650 per saham, dengan performa yang masih tertekan dalam sebulan terakhir. Namun, sentimen analis secara umum masih positif. Data konsensus menunjukkan mayoritas analis, 26 dari 35, memberikan rekomendasi beli untuk saham emiten ini dengan target harga rata-rata Rp7.134,72 dalam 12 bulan ke depan.
Keyakinan ini didasarkan pada posisi Astra sebagai pemimpin pasar yang dianggap paling siap menangkap gelombang pemulihan industri otomotif nasional, berkat kekuatan portofolio, jaringan distribusi, dan strategi produk yang menyeluruh di semua segmen teknologi.
Artikel Terkait
Bamsoet Serukan Politik Akal Sehat dan Rekonsiliasi di Peluncuran Buku Prabowo
TNI Siapkan 8.000 Personel untuk Gaza, Tunggu Keputusan Politik Prabowo
Kemendikbud Rilis Jadwal Libur Ramadan dan Idulfitri 2026
Tembok Pembatas SMPN 182 Jakarta Roboh, Pemilik Rumah Bertanggung Jawab Perbaiki