MURIANETWORK.COM - Empat pria berinisial TIS, CY, DFD, dan EKM resmi didakwa atas produksi dan penyebaran konten video asusila. Kasus yang bermula dari sebuah grup percakapan daring ini berujung pada perekaman aktivitas seksual di sebuah hotel di Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Agustus 2025. Dua dari para terdakwa diketahui berstatus sebagai pegawai pemerintah.
Dakwaan Berdasarkan UU ITE
Keempat pria tersebut dijerat dengan Pasal 407 ayat 1 junto Pasal 20 huruf c Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Dakwaan menjerat mereka karena secara bersama-sama terlibat dalam tindak pidana pornografi.
Berdasarkan informasi dari berkas persidangan, mereka didakwa karena "turut serta melakukan tindak pidana, memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan atau menyediakan pornografi."
Awal Mula dari Grup Telegram
Jalur hukum ini berawal jauh sebelum aksi perekaman video. Pada 2 Juli 2025, TIS membentuk sebuah grup Telegram bernama "Semprot Region Banten" yang digunakan untuk membahas berbagai topik dewasa. Grup itu kemudian menjadi wadah bagi anggota-anggotanya, termasuk EKM, CY, dan DFD yang diajak bergabung, untuk saling berbagi cerita pengalaman seksual.
Dari percakapan di grup itulah kemudian muncul niat untuk mencari perempuan yang bersedia diajak berhubungan badan secara beramai-ramai. Mereka pun menemukan seorang perempuan asal Pandeglang berinisial ZA.
Artikel Terkait
BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi hingga Empat Meter, Berlaku hingga 1 April
Rano Karno Ungkap Rencana Revitalisasi Anjungan DKI Jakarta di TMII
Puncak Arus Balik, Penumpang Bandara YIA Tembus 17 Ribu dalam Sehari
Kebakaran Pabrik Terpal di Gunung Putri, Empat Unit Damkar Dikerahkan