Pemerintahan Montenegro memang tengah menghadapi ujian berat. Respons mereka terhadap dua badai berturut-turut dalam dua minggu menuai sorotan tajam dari berbagai pihak, termasuk oposisi. Badai-badai tersebut telah menelan korban jiwa sedikitnya tujuh orang dan diperkirakan menimbulkan kerugian materiil yang sangat besar, mencapai sekitar empat miliar euro.
Partai oposisi langsung menyoroti momen ini sebagai bukti kegagalan pemerintah. "Pengunduran diri menteri dalam negeri adalah bukti bahwa pemerintah telah gagal dalam menanggapi keadaan darurat ini," tegas Jose Luis Carneiro, Sekretaris Jenderal Partai Sosialis, dalam keterangannya kepada pers.
Dampak Cuaca Ekstrem yang Beruntun
Situasi di lapangan terlihat sangat kompleks. Portugal seakan tidak mendapat jeda untuk bernapas. Negara itu masih berusaha pulih dari dampak Badai Kristin, yang menyebabkan puluhan ribu rumah gelap gulita akibat pemadaman listrik, ketika Badai Leonardo datang menerjang. Akibat badai terbaru ini, satu orang meninggal dunia dan sekitar 1.100 orang terpaksa dievakuasi dari rumah mereka untuk menyelamatkan nyawa.
Fenomena cuaca ekstrem yang semakin panjang dan intens ini, seperti hujan deras yang memicu banjir bandang, bukanlah hal yang terpisah dari konteks global. Para ahli klimatologi telah lama mengaitkan pola cuaca yang semakin tidak stabil dan berbahaya ini dengan dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
Artikel Terkait
Sidang Kasus Satelit Kemhan Buka Tabir Dugaan Rugikan Negara Rp306 Miliar
Kasus Penyiraman Andrie Yunus Beralih ke Puspom TNI, Empat Personel Diamankan
Pengamat Sarankan Evaluasi Menteri di Tengah Krisis Global
Polisi Ungkap Motif Pembunuhan di Bekasi: Korban Tewas Usai Tolak Ajakan Mencuri