Sistem Perlindungan Digital Cegah Potensi Kerugian Rp 8 Triliun dalam 6 Bulan

- Sabtu, 07 Februari 2026 | 02:45 WIB
Sistem Perlindungan Digital Cegah Potensi Kerugian Rp 8 Triliun dalam 6 Bulan

Setiap hari, puluhan juta orang di Indonesia berhadapan dengan ancaman yang tak terlihat: spam dan penipuan digital. Tapi, ada sistem yang bekerja di balik layar untuk melindungi mereka. Dalam enam bulan terakhir, upaya ini diklaim telah mencegah potensi kerugian yang fantastis: hampir Rp 8 triliun.

Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika, Nezar Patria, menekankan bahwa keamanan warga di ruang digital adalah prioritas utama. Hal ini menjadi semakin krusial mengingat maraknya kejahatan siber yang datang lewat panggilan tak dikenal, pesan mencurigakan, dan tautan berbahaya.

“Ruang digital yang terhubung dan terus tumbuh ini haruslah aman. Kita tidak bisa membiarkan masyarakat hidup dalam kecemasan saat beraktivitas di dunia digital,”

ujar Nezar dalam acara Fighting Spam & Scams: Solving Real Problems, Delivering Real Impact di Jakarta, Jumat (6/2/2026).

Menurutnya, lebih dari 2 miliar panggilan, pesan, dan tautan berisiko berhasil dideteksi dalam kurun waktu tersebut. Angkanya sangat besar.

“Rata-rata lebih dari 33 juta pelanggan terlindungi setiap hari dari potensi scam dan penipuan digital,”

tuturnya.

Di sisi lain, partisipasi masyarakat juga mulai terlihat. Lebih dari 2,5 juta pelanggan sudah mengambil langkah aktif dengan mengaktifkan fitur perlindungan dan melaporkan aksi spam yang mereka terima. Ini bukan angka kecil.

“Ini menunjukkan kekuatan kolaborasi antara penyedia layanan dan masyarakat dalam memerangi kejahatan digital,”

lanjut Nezar.

“Tujuan kita sama, memastikan ruang digital Indonesia tetap terhubung, menjadi ruang untuk tumbuh, dan senantiasa terjaga.”

Lalu, dari mana angka Rp 8 triliun itu berasal? Perhitungan itu datang dari operator telekomunikasi. Mereka memperkirakan sistem perlindungan itu telah mencegah potensi kerugian finansial pelanggan hingga sekitar 500 juta dolar AS, yang jika dikonversi kira-kira mencapai Rp 8 triliun. Jelas sekali, ancaman ini bukan main-main dan benar-benar menggerogoti ekonomi rumah tangga.

Ke depan, pemerintah berjanji akan memperkuat kerja sama dengan industri. Tujuannya agar sistem perlindungan ini bisa menjangkau lebih banyak orang dan akhirnya menjadi standar nasional yang solid.

“Kami membutuhkan peran aktif dari seluruh pemangku kepentingan, terutama dari sektor swasta,” pungkas Nezar.

“Untuk berkontribusi secara proaktif dalam menciptakan ekosistem yang aman, nyaman, dan produktif bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Perang melawan spam dan scam ini tampaknya masih panjang. Namun, dengan kolaborasi yang terjalin, setidaknya ada harapan untuk membuat ruang digital kita sedikit lebih aman.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar