Di tengah kerumunan acara Puncak Natal Nasional 2025, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan yang terdengar sederhana namun dalam: politik harus damai, dan dendam tak punya tempat di dalamnya. Untuk menguatkan seruannya, ia merujuk pada sebuah ajaran dari kekristenan yang sangat dikenal.
"Saudara-saudara, keluarga saya sebagian itu Nasrani," ujarnya di Tennis Indoor Senayan, Senin lalu.
Lalu ia melanjutkan, dengan nada seperti bertanya pada para pendeta yang hadir, "Tapi, kadang-kadang, kalau ajaran nasrani yang paling pokok ya, kalau tidak salah ya, pendeta. Yang paling pokok adalah, kalau pipi kiri kita ditempeleng, kita harus kasih pipi kanan. Betul ya. Betul."
Kutipan itu, yang berasal dari Khotbah Yesus di bukit dalam Matius 5:39, ia angkat bukan tanpa alasan. Prabowo mengaku punya dasar pemahaman pribadi soal hal itu. Rupanya, masa kecilnya pernah dihabiskan di bangku sekolah Kristen.
"Karena waktu kecil saya sekolah Kristen juga," katanya sambil tersenyum, lalu berkelakar ringan. "Jangan-jangan saya mengerti cerita-cerita di bubble lebih dari saudara-saudara. Jangan-jangan."
Kelakar itu pun memancing gelak tawa jemaat yang memenuhi lokasi.
Namun begitu, pesan intinya serius. Ia dengan tegas menerapkan filosofi "memberi pipi kanan" itu ke dalam kancah politik yang kerap panas. Bagi Prabowo, maknanya jelas: memaafkan. "Harus memaafkan, kan begitu kan. Forgive those that trespass against us, bener nggak?" tanyanya retoris.
"Forgive us, our trespassers as we forgive those that trespass against us," lanjutnya, menyempurnakan doa Bapa Kami yang ia kutip. "Jadi saya, sebenarnya ya, bagi saya itu selalu ingin cari kebaikan daripada ketidakbaikan. Saya ingin cari persatuan daripada perpecahan."
Pernyataan itu bukan sekadar teori. Ia mengakui sendiri bahwa persaingan politik itu keras, tak bisa dipungkiri. Tapi di sisi lain, rasa bersatu haruslah jadi prioritas. Prabowo lalu menjadikan pengalaman pribadinya sebagai contoh nyata.
"Aku kalah pilpres beberapa kali itu, udah lupa. Tapi tidak ada masalah," ucapnya dengan santai.
Dengan penekanan, ia menambahkan, "Tidak boleh kita sakit hati. Tidak boleh dendam. Tidak boleh benci. Dan itu saya, saya berusaha untuk teguh pada pendirian itu."
Seruan itu ia sampaikan bukan sebagai retorika kosong, melainkan sebagai prinsip yang ia klaim pegang teguh. Di ruangan itu, ajaran agama ia jadikan landasan untuk merajut kembali semangat kebersamaan di tengah perbedaan dan pertarungan ide yang tak pernah benar-benar padam.
Artikel Terkait
Kota Bandung Kerahkan 1.596 Petugas Pemilah Sampah di Setiap RW
Belasan Kios di Pasar Labuan Pandeglang Hangus Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik
Janice Tjen Hadapi Camila Osorio di Babak Pertama Merida Open
Festival Imlek Nasional 2026 Resmi Dibuka, Tawarkan Harmoni Budaya di Jakarta