Namun begitu, pesan intinya serius. Ia dengan tegas menerapkan filosofi "memberi pipi kanan" itu ke dalam kancah politik yang kerap panas. Bagi Prabowo, maknanya jelas: memaafkan. "Harus memaafkan, kan begitu kan. Forgive those that trespass against us, bener nggak?" tanyanya retoris.
"Forgive us, our trespassers as we forgive those that trespass against us," lanjutnya, menyempurnakan doa Bapa Kami yang ia kutip. "Jadi saya, sebenarnya ya, bagi saya itu selalu ingin cari kebaikan daripada ketidakbaikan. Saya ingin cari persatuan daripada perpecahan."
Pernyataan itu bukan sekadar teori. Ia mengakui sendiri bahwa persaingan politik itu keras, tak bisa dipungkiri. Tapi di sisi lain, rasa bersatu haruslah jadi prioritas. Prabowo lalu menjadikan pengalaman pribadinya sebagai contoh nyata.
"Aku kalah pilpres beberapa kali itu, udah lupa. Tapi tidak ada masalah," ucapnya dengan santai.
Dengan penekanan, ia menambahkan, "Tidak boleh kita sakit hati. Tidak boleh dendam. Tidak boleh benci. Dan itu saya, saya berusaha untuk teguh pada pendirian itu."
Seruan itu ia sampaikan bukan sebagai retorika kosong, melainkan sebagai prinsip yang ia klaim pegang teguh. Di ruangan itu, ajaran agama ia jadikan landasan untuk merajut kembali semangat kebersamaan di tengah perbedaan dan pertarungan ide yang tak pernah benar-benar padam.
Artikel Terkait
Bonus Rp 3,4 Miliar Jadi Kado Ultah Kejutan Martina dari Presiden
Prabowo Tersenyum Gelitik: Yang Namanya Prabowo, Semua Berprestasi!
Aset Dharmawangsa Nadiem Makarim Diusulkan Disita Jaksa di Sidang Korupsi
Lumpur Banjir Sumatera Bakal Disulap Jadi Tanggul, Usulan Menhan ke Mendagri