Donald Trump punya penjelasan sendiri soal memar besar yang kerap terlihat di tangannya. Mantan presiden AS itu menyalahkan aspirin. Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal yang dirilis Kamis lalu, politikus berusia 79 tahun itu juga membantah keras kabar bahwa dirinya kerap tertidur di tengah pertemuan publik.
Menurut sejumlah saksi, tahun pertama masa jabatan keduanya ini justru memunculkan banyak tanda tanya. Tangan kanannya sering terlihat lebam, biasanya ditutupi riasan tebal atau bahkan perban. Pergelangan kakinya kadang tampak bengkak. Belum lagi, di beberapa kesempatan termasuk saat pertemuan di Ruang Oval November lalu yang disiarkan televisi Trump terlihat kesulitan menjaga matanya tetap terbuka.
Hal ini tentu sensitif secara politik. Bagaimana tidak, Trump sendiri kerap menyebut pendahulunya, Joe Biden dari Partai Demokrat, sebagai "tukang ngantuk". Kini, sorotan justru berbalik ke arahnya.
Soal memar itu, Trump punya cerita. Dia bilang itu efek samping dari aspirin yang rutin diminumnya setiap hari. "Saya tidak ingin darah kental mengalir melalui jantung saya," katanya kepada Journal.
Dia mengaku minum obat pengencer darah itu demi kesehatan. Kalau sampai terbentur, ya sudah, memarnya jadi gampang sekali muncul. Makanya kadang dia pakai riasan atau perban untuk menutupinya.
Artikel Terkait
Tragedi di Kontrakan Warakas: Tiga Nyawa Melayang, Mulut Berbusa
Tragedi Misterius di Warakas, Satu Kelarga Terbaring Tiga Tewas
Teriakan Malam di Gang 10: Satu Keluarga Tewas, Seorang Selamat dengan Luka Melepuh
Operasi Lilin Diperpanjang, Destinasi Wisata Masih Ramai Pascanataru