"Apalagi sampai menyebut Menlu terancam tercatat dengan nilai merah dalam sejarah. Itu kan biasanya dikaitkan dengan integritas dan kinerja yang rendah. Tudingan itu sama sekali tidak berdasar."
Di sisi lain, Habiburokhman justru membeberkan fakta yang menurutnya bertolak belakang dengan kritik tersebut. Ia menegaskan integritas Sugiono bersih, tanpa noda. Sementara kinerja diplomasinya justru sedang di puncak, mengingat dinamika geopolitik global yang begitu kompleks.
"Kinerja diplomasi luar negeri kita justru saat ini mencapai salah satu puncaknya," tegasnya.
"Kita lihat sendiri, Pak Prabowo didampingi Menlu Sugiono bisa menjalin hubungan yang luwes dengan pemimpin-pemimpin besar dunia dari berbagai blok politik."
Soal isu efisiensi anggaran yang juga disorot Dino, Habiburokhman punya penjelasan lain. Menurutnya, hal itu adalah kebijakan presiden, bukan semata-mata wewenang atau kesalahan menteri luar negeri. Ia menggarisbawahi bahwa kebijakan penghematan itu merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto, dengan tujuan penggunaan anggaran negara yang lebih hati-hati.
Pada akhirnya, meski saling bersilang pendapat, Habiburokhman menutup pernyataannya dengan nada rekonsiliatif. Dalam demokrasi, kritik dan respons adalah hal wajar. Yang penting, semua pihak punya komitmen yang sama: memajukan bangsa.
Artikel Terkait
Warga Jakarta Ramai-Ramai Bakar Kalori di CFD Usai Libur Lebaran
CFD Bundaran HI Ramai Usai Lebaran, Warga Antusias Bakar Kalori dan Silaturahmi
Korlantas: Arus Balik Lebaran 2026 Terkendali, One Way Tahap II Masih Dipertahankan
Harga Emas Batangan di Pegadaian Naik, Antam Sentuh Rp2,9 Juta per Gram