Banjir Rendam Enam Desa di Serang, Ratusan Keluarga Terjebak Genangan

- Kamis, 18 Desember 2025 | 19:05 WIB
Banjir Rendam Enam Desa di Serang, Ratusan Keluarga Terjebak Genangan

Hujan tak henti-hentinya mengguyur Kabupaten Serang selama tiga hari berturut-turut. Akibatnya, Rabu malam lalu, air mulai merayap masuk ke permukiman warga. Laporan terbaru dari BPBD Provinsi Banten menyebutkan, setidaknya enam desa di tiga kecamatan terendam banjir. Ratusan keluarga pun harus berhadapan dengan genangan air yang datang tiba-tiba.

Menurut data yang dihimpun, ada 695 kepala keluarga atau sekitar 2.125 jiwa yang terdampak. Di antara mereka, terdapat 108 lansia dan 133 anak balita. Sampai saat ini, untungnya belum ada laporan korban luka, baik ringan maupun berat. Meski begitu, situasinya tetap mengkhawatirkan.

Kepala Pelaksana BPBD Banten, Lutfi Mujahidin, menjelaskan penyebabnya. "Banjir ini dipicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang berlangsung dari pagi sampai malam," ujarnya, Kamis (18/12).

Akibatnya, dua sungai utama di wilayah itu, Cidanau dan Cikalumpang, tak mampu lagi menampung air. Alirannya meluap dan membanjiri pemukiman di sekitarnya.

Genangannya bervariasi, mulai dari yang hanya setinggi mata kaki hingga yang nyaris mencapai pinggang orang dewasa, kisaran 20 sampai 120 sentimeter. Jalan-jalan pun terputus, menghambat akses menuju lokasi. Tak cuma rumah warga, beberapa fasilitas umum seperti masjid dan madrasah juga ikut tergenang.

"Sekarang di Desa Citasuk air sudah mulai surut," kata Lutfi menambahkan.

Dia menyebut, sebagian warga memilih mengungsi sendiri ke rumah kerabat yang lebih aman. Tapi, banyak juga yang bertahan. Mereka memutuskan untuk tetap tinggal di rumah meski terendam. Bagi sebagian, banjir seperti ini sudah jadi 'langganan' tahunan.

Di sisi lain, upaya penanganan di lapangan ternyata tidak mudah. Tim BPBD menghadapi sejumlah kendala serius. Mulai dari akses jalan yang terputus, cuaca yang masih tak menentu, hingga keterbatasan sarana dan kendaraan operasional.

Menyikapi hal itu, beberapa rekomendasi pun diajukan. Status Siaga Darurat bisa saja ditingkatkan jadi Tanggap Darurat, tergantung perkembangan di lapangan. Yang tak kalah penting adalah pemenuhan kebutuhan mendesak para korban.

"Mereka butuh bantuan segera, seperti terpal, makanan siap saji, sembako, dan alas tidur," jelas Lutfi.

Evakuasi memang lebih diutamakan untuk kelompok rentan, terutama para lansia. Namun realitanya, pilihan akhir tetap berada di tangan warga sendiri. Ada yang pergi, lebih banyak lagi yang memilih bertahan, menghadapi banjir yang sudah terlalu sering mereka kenal.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar