Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto: Ujian Kedewasaan Bangsa dalam Berdamai dengan Sejarah

- Sabtu, 08 November 2025 | 23:40 WIB
Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto: Ujian Kedewasaan Bangsa dalam Berdamai dengan Sejarah

Wacana Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto: Perlunya Objektivitas Sejarah dan Rekonsiliasi

Wacana pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden kedua RI, Soeharto, dinilai perlu dilihat melampaui sudut pandang politik dan luka masa lalu. Menurut akademisi IAIN Kendari, La Ode Anhusadar, pendekatan yang objektif, jujur secara historis, dan berorientasi pada rekonsiliasi nasional sangat diperlukan.

Pentingnya Keseimbangan dalam Menilai Sejarah

La Ode Anhusadar menyoroti pernyataan Megawati Soekarnoputri yang menolak pemberian gelar tersebut. Menurutnya, hal itu bisa dimaknai sebagai keberanian menyuarakan kebenaran sejarah. Namun, di sisi lain, bangsa Indonesia juga harus secara jujur mengakui kontribusi dan jasa besar Soeharto dalam pembangunan nasional.

Dia menegaskan bahwa sikap saling menegasikan antara jasa dan kesalahan hanya akan memperpanjang luka sosial bangsa. Sejarah, katanya, harus dipandang secara objektif tanpa dibelenggu oleh emosi yang dapat menghalangi pemahaman utuh tentang masa lalu.

Rekonsiliasi sebagai Kunci Kedewasaan Bangsa

Anhusadar menekankan bahwa rekonsiliasi bukanlah tentang melupakan sejarah. Sebaliknya, rekonsiliasi berarti menjadikan peristiwa masa lalu sebagai pelajaran berharga untuk membangun masa depan yang lebih baik. Dengan pendekatan ini, bangsa Indonesia dapat menghormati para korban sejarah sekaligus mengakui jasa-jasa tokoh besar bangsa, termasuk Soeharto.

Dia juga mengkritik partai politik yang sering menyerukan perdamaian tanpa diiringi kejujuran sejarah. Perdamaian sejati, menurutnya, lahir dari keberanian mengakui kesalahan, meminta maaf, dan berkolaborasi membangun masa depan.

Momentum Uji Kedewasaan Nasional

Perdebatan mengenai gelar pahlawan untuk Soeharto seharusnya tidak dilihat sebagai arena pro dan kontra semata. Lebih dari itu, momen ini merupakan ujian kedewasaan bangsa dalam memaknai sejarah secara komprehensif. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berdamai dengan masa lalunya tanpa mengabaikan atau menghapus sisi mana pun dari kebenaran sejarah.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar