Pesan Pendidikan di Balik Kebijakan Insentif

- Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:06 WIB
Pesan Pendidikan di Balik Kebijakan Insentif

Di tengah ramainya wacana pemberian hadiah bagi warga yang melaporkan tindak kejahatan, seorang pendidik mengingatkan bahwa kebijakan semacam itu membawa pesan tersembunyi bagi anak-anak. Menurutnya, kebaikan yang dikaitkan dengan imbalan dapat menggeser fondasi pendidikan karakter yang selama ini dibangun di rumah dan sekolah.

Gagasan ini disampaikan dalam sebuah refleksi yang menekankan bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga melalui contoh yang diberikan orang dewasa di ruang publik. Anak-anak, kata dia, sangat peka membaca teladan, meski belum memahami bahasa kebijakan.

Ia mencontohkan pengalamannya sebagai kepala sekolah ketika seorang siswa mengembalikan dompet yang ditemukannya. Saat ditanya alasannya, anak itu menjawab sederhana, "Karena itu bukan milik saya, Pak." Tidak ada hadiah, tepuk tangan, atau kamera yang merekam, namun di situlah pendidikan karakter bekerja.

Di sekolahnya, ia menegaskan tidak pernah membayar siswa untuk berkata jujur atau meminta maaf. Penghargaan diberikan atas prestasi, bukan untuk membeli nilai-nilai yang seharusnya tumbuh dari kesadaran. "Pendidikan tidak bertujuan menciptakan anak yang berbuat baik ketika ada hadiah, melainkan pribadi yang tetap memilih kebaikan ketika tidak ada siapa pun yang melihat," tulisnya.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Thomas Lickona yang menyebut karakter terbangun dari tiga hal: mengetahui yang baik, mencintai yang baik, dan melakukan yang baik. Ketiganya tidak bisa dipisahkan. Anak yang hanya tahu kejujuran itu penting belum tentu menjadi pribadi jujur. Pendidikan baru berhasil ketika nilai berubah menjadi kebiasaan yang lahir dari hati.

Lebih jauh, ia mengutip teori Self-Determination dari Edward L. Deci dan Richard M. Ryan yang membedakan motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Dorongan yang muncul dari kesadaran diri berbeda dengan yang timbul karena hadiah atau tekanan luar. Penghargaan memang punya tempat, tetapi jika perilaku moral terlalu sering dikaitkan dengan imbalan, motivasi intrinsik bisa melemah. Orang pun mulai bertanya bukan lagi "Apa yang benar?", melainkan "Apa yang saya dapatkan?".

Ia menegaskan persoalannya bukan pada efektivitas kebijakan, melainkan apakah ruang publik sedang memperkuat atau menggeser nilai-nilai yang diajarkan di rumah dan sekolah. Kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab adalah nilai yang tidak memiliki tarif. Nilai hidup karena diyakini, bukan karena dibayar.

Meski demikian, ia tidak menolak semua bentuk penghargaan. Apresiasi tetap penting dalam kebijakan publik, tetapi hendaknya menjadi pengakuan atas kontribusi, bukan alasan utama seseorang berbuat baik. Negara boleh menggunakan berbagai instrumen untuk menjaga keamanan, namun perlu sadar bahwa setiap kebijakan membawa pesan pendidikan.

Ia menutup dengan harapan agar setiap kebijakan dilihat dari dua sisi: efektivitasnya menyelesaikan masalah hari ini dan pelajaran yang dibawanya bagi generasi mendatang. "Keberhasilan sebuah kebijakan tidak hanya diukur dari hasil yang tampak hari ini, tetapi juga dari karakter yang tumbuh esok hari," tulisnya. Kelak, ketika seorang guru bertanya mengapa kita harus berbuat baik, ia berharap masih ada anak yang menjawab, "Karena itu memang benar, Pak." Bukan "Karena ada hadiahnya."

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags