Pemerintah Genjot Jaringan Gas untuk Kurangi Ketergantungan LPG Impor

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:24 WIB
Pemerintah Genjot Jaringan Gas untuk Kurangi Ketergantungan LPG Impor

Pemerintah terus mengembangkan jaringan gas bumi untuk kebutuhan rumah tangga sebagai langkah strategis mengurangi ketergantungan pada LPG impor yang saat ini mencapai 72 persen dari kebutuhan nasional. Hal ini disampaikan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, dalam konferensi pers di Kantor Bakom RI, Jakarta Pusat, Rabu (5/8).

Qodari menjelaskan, Indonesia memiliki potensi gas bumi yang melimpah, didominasi metana dan etana, sementara LPG tersusun atas propana dan butana. Potensi gas alam domestik yang jauh lebih besar itu, menurut dia, seharusnya bisa dimanfaatkan secara optimal melalui pembangunan jaringan gas (jargas).

"Ketersediaan dalam negeri kita, potensi alam kita untuk gas alam, metana dan etana ini jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan LPG. Mungkin sekitar tiga per empat dari ketersediaan gas di Indonesia adalah kategori gas yang potensial itu metana dan etana, walaupun memang ada tantangan dalam distribusi," kata Qodari.

Tantangan distribusi tersebut, lanjut Qodari, dapat diatasi dengan membangun jaringan pipa yang menyalurkan gas bumi langsung ke rumah tangga. Dengan begitu, pasokan gas bisa mengalir tanpa perlu pengangkutan tabung seperti halnya LPG.

Saat ini, produksi LPG dalam negeri baru sekitar 1,4 juta ton per tahun, jauh di bawah kebutuhan nasional. Akibatnya, sekitar 72 persen kebutuhan LPG harus dipenuhi melalui impor setiap tahunnya. "Impor sekitar 72 persen setiap tahunnya dari kebutuhan dalam negeri. Dengan demikian, jargas merupakan langkah strategis pemerintah untuk membuat pasokan energi Indonesia lebih mandiri dan stabil," ujar dia.

Selain memperkuat ketahanan energi, pengembangan jargas juga dinilai memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Pelanggan tidak perlu lagi membeli, mengangkat, atau mengganti tabung gas karena gas disalurkan langsung melalui pipa. Mereka hanya membayar sesuai pemakaian yang tercatat pada meter gas, dengan harga yang lebih stabil karena tidak terpengaruh fluktuasi distribusi tabung.

"Pemerintah mendorong pengembangan jargas untuk memperluas pemanfaatan gas bumi domestik, mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor, mengefektifkan kebijakan subsidi, serta menyediakan sumber energi rumah tangga yang lebih praktis dan berkelanjutan," tutur Qodari.

Dari sisi lingkungan, gas bumi menghasilkan pembakaran yang lebih bersih dan efisien dibandingkan LPG. Pembangunan jargas juga membuka pasar bagi produsen dalam negeri, seperti pipa polyethylene, pipa baja, meter gas, regulator, valve fitting, kompor gas, enclosure, serta jasa konstruksi dan engineering. "Pembangunan ini juga memutar pasar bagi produsen dalam negeri... yang sekaligus menjadi nilai tambah bagi penguatan industri gas nasional dari hulu hingga hilir," pungkas Qodari.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags