Lebih dari 4.200 pemukim Israel dan anggota kelompok sayap kanan menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki pada Kamis (13/7/2023), dalam salah satu aksi masuk terbesar sepanjang tahun ini. Aksi tersebut bertepatan dengan peringatan hari raya Yahudi Tisha B'Av, hari berkabung yang memperingati kehancuran Bait Suci Yahudi kuno yang diyakini pernah berdiri di lokasi tersebut.
Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, ikut memasuki kawasan itu dengan pengawalan ketat polisi. Pemerintah Palestina untuk wilayah Kegubernuran Yerusalem menyatakan bahwa jumlah pemukim yang masuk mencapai 4.288 orang dan diperkirakan terus bertambah hingga matahari terbenam, berpotensi mencapai 5.000 orang. Angka itu melampaui catatan pada peringatan Tisha B'Av tahun-tahun sebelumnya.
Pejabat Palestina mengatakan pasukan Israel memberlakukan pembatasan ketat di seluruh gerbang Masjid Al-Aqsa, melarang banyak jemaah dan pelajar Palestina masuk, serta menyerang sejumlah jemaah. Koresponden Al Jazeera di Ramallah, Nour Odeh, melaporkan bahwa otoritas Israel mengambil langkah-langkah ekstrem di Kota Tua Yerusalem, termasuk melarang masuk ke kompleks Al-Aqsa bagi hampir semua orang kecuali warga lanjut usia, serta memperketat pos-pos pemeriksaan di Qalandiya dan kawasan sekitar Yerusalem Timur.
Pemerintah Yerusalem menyatakan bahwa para pemukim dan kelompok sayap kanan melakukan ritual-ritual Talmud di dalam kompleks, termasuk bersujud, bernyanyi, dan berdoa. Media Israel melaporkan polisi mengizinkan lebih dari 1.000 warga Israel berdoa di lokasi tersebut, melanggar pengaturan yang berlaku sejak 1967 yang melarang umat non-Muslim beribadah di situs suci ketiga umat Islam itu.
Ben-Gvir mengatakan bahwa orang-orang Yahudi yang berkunjung pada Tisha B'Av "merasakan diri sebagai pemilik tempat ini" dan memuji apa yang disebutnya sebagai "kemajuan luar biasa" di kawasan tersebut, sebagaimana dikutip harian Haaretz.
Provokasi yang Dikecam
Pemerintah Kegubernuran Yerusalem menggambarkan masuknya Ben-Gvir ke Al-Aqsa sebagai eskalasi berbahaya yang mencerminkan dukungan resmi pemerintah Israel terhadap aksi-aksi yang sebelumnya identik dengan kelompok penyeru pembangunan kembali Bait Suci Yahudi. Kepresidenan Palestina menyebut aksi tersebut sebagai "eskalasi berbahaya" yang bertujuan memberlakukan pembagian waktu dan wilayah di kompleks Al-Aqsa, dan menegaskan bahwa kompleks itu merupakan tempat ibadah Islam secara eksklusif dan Israel tidak memiliki kedaulatan hukum atasnya.
Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional. Kelompok Hamas memperingatkan bahwa "tindakan agresi yang terang-terangan ini akan berbalik merugikan pendudukan Israel dan para pemukimnya." Kementerian Luar Negeri Yordania juga mengecam kunjungan Ben-Gvir sebagai "penodaan terhadap kesucian masjid, tindakan eskalatif, barbar, dan provokasi yang tidak dapat diterima." Juru bicara kementerian tersebut, Fouad Majali, mengatakan tindakan itu melanggar status historis dan hukum yang berlaku di kawasan suci tersebut.
Pemerintah Yordania mendesak masyarakat internasional untuk menekan Israel menghentikan pelanggaran terhadap situs-situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem. Menurut Nour Odeh, keterlibatan tokoh-tokoh dari Partai Likud yang berkuasa menunjukkan pergeseran politik mendasar, di mana seruan membangun kembali Bait Suci Yahudi di lokasi Al-Aqsa kini mendapat dukungan dari tokoh penting di pemerintahan dan parlemen Israel. Odeh menambahkan bahwa aksi tersebut diperkirakan berlanjut hingga Jumat dan berpotensi memicu bentrokan, mengingat salat Jumat di Masjid Al-Aqsa biasanya dihadiri ribuan jemaah.
Sebelumnya, Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina mengecam seruan penyerbuan ke Al-Aqsa sebagai eskalasi berbahaya yang bertujuan mengubah status historis dan hukum kawasan tersebut, dan mendesak masyarakat internasional untuk menekan Israel. Israel menduduki Yerusalem Timur sejak Perang Arab-Israel 1967 dan mencaploknya pada 1980, langkah yang tidak diakui masyarakat internasional.
Artikel Terkait
Israel Izinkan Penggunaan Buaya untuk Cegah Pelarian Narapidana
Israel Izinkan Buaya Hidup untuk Jaga Penjara Tahanan Palestina
Puluhan Ribu Warga Palestina Salat Jumat di Al-Aqsha di Tengah Pembatasan Israel
70.000 Jamaah Salat Jumat di Al-Aqsha Meski Dihalangi Pembatasan Israel