Vonis yang dijatuhkan kepada mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim menarik perhatian luas media internasional. Intelektual Hamid Basyaib menilai kasus ini menjadi yang pertama di Indonesia dengan liputan begitu masif dari media-media besar dunia.
"Pertama New York Times. New York Times ini mengangkat beritanya dengan ada nada prihatin, pada umumnya memang prihatin, lalu The Economist. Dua media yang betul-betul sangat selektif dalam memilih berita mana yang diangkat dan tidak. Dan ada juga Bloomberg, di Asia juga ada Nikkei yang memberitakan ini," kata Hamid dalam program Perspektif di YouTube Terus Terang Media, Minggu (18/7/2026).
Menurut Hamid, media-media tersebut merupakan rujukan utama para investor. The Economist, misalnya, media Inggris yang sudah berusia 170 tahun itu menjadi bacaan wajib hampir semua kepala negara. "Mungkin satu-satunya yang edisi cetaknya bertahan, selain edisi digitalnya juga naik. Jadi, ini perhatiannya besar sekali terhadap vonisnya Nadiem," ujarnya.
Hamid menekankan bahwa aspek investor sangat penting karena mereka terus dibidik dan diharapkan kehadirannya di Indonesia. Minimnya investasi yang masuk hampir selalu menjadi masalah setiap pemerintahan. Belakangan, ia menyampaikan, yang lebih banyak masuk sekadar portofolio di bursa saham yang rentan karena nasibnya ditentukan oleh ujung jari pemiliknya.
"Kalau saya punya uang misalnya 100 miliar dolar di pasar saham Indonesia, kalau saya mau pindahkan, saya pencet tombol satu saja, sepersekian detik, pindah itu, dana sebesar itu. Jadi, tidak bisa diandalkan, yang bisa diandalkan oleh sebuah negara adalah apa yang disebut Foreign Direct Investment, FDI," kata Hamid.
Jika tidak, ia menuturkan, kejadian seperti hengkangnya pabrik-pabrik sepatu besar dari Indonesia ke Vietnam mudah terulang. Salah satu keunggulan negara seperti Vietnam, menurut Hamid, adalah kepastian hukum.
Bagi Hamid, vonis kepada Nadiem Makarim seperti sinyal salah yang dikirim pemerintah Indonesia kepada dunia, terutama investor. Ia khawatir kasus serupa membuat investor malas berinvestasi di Indonesia. "Dengan kasus seperti ini, dan sebelumnya ada Tom Lembong, Menteri Perdagangan yang juga reputasinya baik di bidang bisnis internasional, dikenal. Sekarang, ada Nadiem yang dibeginikan, maka ini pemerintah artinya mengirim pesan yang salah atau pesan yang berlawanan dengan niat yang setiap hari diteriakan oleh para pejabat negara," ujarnya.
Hamid menambahkan, investor yang setiap hari membaca Bloomberg, New York Times, The Economist, Nikkei, dan lain-lain pasti berpikir dua kali. Sebab, ada dua hal yang sangat penting bagi investor: kepastian hukum dan kestabilan aturan. Dengan vonis ini, investor seperti tidak ada jaminan, seperti terjun bebas, dan sulit mempertaruhkan modal besar. "Mereka akan melihat bahwa kalau seorang seperti Nadiem Makarim saja diperlakukan begini, maka kecil harapan mereka untuk terjamin investasinya di Indonesia. Dan itu yang terjadi. Mereka biasanya bilang, ya kita wait and see, kita lihat-lihat dulu. Mestinya sudah bulan lalu dia investasi, begitu ada kasus begini, dia setop, dan itu, itu psikologi para investor yang normal sekali, ya wajar sekali," kata Hamid.
Artikel Terkait
Hamid Basyaib: Vonis Nadiem Makarim Seperti Persidangan Sirkus
Dissenting Opinion Hakim Dinilai Jadi Modal Kuat Banding Nadiem Makarim
Empat Hakim Sidang Nadiem Makarim Dilaporkan ke KY, Salah Satunya Diduga Tidur di Persidangan
Nadiem Makarim Laporkan Empat Hakim ke KY, Tuduh Ada Manipulasi Fakta Persidangan