Hamid Basyaib Ingatkan Prabowo Soal Bahaya Puja-Puji ala Era Soeharto

- Senin, 10 Agustus 2026 | 16:00 WIB
Hamid Basyaib Ingatkan Prabowo Soal Bahaya Puja-Puji ala Era Soeharto

Intelektual Hamid Basyaib menyoroti puja-puji yang selama satu setengah tahun terakhir terus dilontarkan para pembantu Presiden Prabowo. Ia menyarankan agar Prabowo belajar dari kejatuhan Soeharto, yang juga pernah dikelilingi oleh para pembantunya yang gemar memuji.

Menurut Hamid, banyak peristiwa pada masa Orde Baru yang bisa dikategorikan sebagai bentuk pemujaan terhadap Soeharto. Salah satunya adalah penobatan Soeharto sebagai Bapak Pembangunan, julukan yang sangat lekat di media saat itu.

"Itu sebetulnya didesain oleh setidaknya secara formal yang terdengar pendesainnya adalah Menteri Penerangan, Ali Moertopo. Waktu itu ada desain besar, tentu saja sangat mungkin Pak Harto pun mengetahui atau merestui ide ini, lalu digencarkanlah banyak sekali peristiwa ramai-ramai, ada peringatan ini, peringatan itu, lalu ditumpangi penobatan Pak Soeharto sebagai Bapak Pembangunan Indonesia karena dialah yang dianggap mengangkat bangsa ini dari keterpurukan," kata Hamid dalam tayangan Perspektif di YouTube Terus Terang Media, Minggu (09/08/2026).

Langkah serupa dilakukan oleh penerus Ali Moertopo, Menteri Penerangan Harmoko, yang turut mengantarkan Soeharto hingga menjelang Reformasi. Pada 1997, Harmoko menghadap Soeharto dan memohon kesediaannya untuk kembali menjadi presiden.

Harmoko, lanjut Hamid, kemudian menghadirkan survei untuk meyakinkan bahwa rakyat Indonesia masih menginginkan bimbingan Pak Harto. Golkar pun saat itu menargetkan perolehan suara 70,02 persen, angka yang merujuk pada hari lahir Harmoko, 7 Februari.

"Bayangkan, tanggal lahir dijadikan target perolehan kursi partai politik, begitu over confident-nya dia, begitu mutlaknya sistem ini dikuasai, sehingga menetapkan target berapapun tanpa kajian, tanpa apa, boleh saja. Kemudian, kita tahu setelah menjelang Reformasi, Pak Harto terpaksa turun dan yang mengumumkan pertama kali tidak kurang dari siapa, dari Pak Harmoko sendiri sebagai Ketua DPR," ujar Hamid.

Hamid juga menyoroti langkah Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Hartono yang menjelang Reformasi menjadi Menteri Dalam Negeri. Kala itu, Hartono sering merespons aksi demonstrasi yang menuntut Soeharto turun.

Bahkan, Mendagri Hartono mengeluarkan pernyataan angkuh menanggapi mahasiswa yang meminta dialog langsung dengan Presiden Soeharto. Hartono menyebut orang-orang yang selevel mahasiswa tidak pantas meminta dialog langsung dengan Pak Harto.

"Itu maksudnya Pak Hartono karena Bapak itu begitu agung, begitu tinggi posisinya, sementara mahasiswa itu apa, mahasiswa itu kata Pak Hartono menjadi sarjana saja belum, belum lulus dari kuliah kok bisa minta dialog dengan Bapak Presiden kita yang sangat sepuh, negarawan besar dan sebagainya, itu maksudnya," kata Hamid.

Hamid menambahkan, Indonesia sebenarnya bisa lebih baik daripada negara-negara otoriter yang memang normal memberikan puja-puji kepada pemimpinnya. Namun, ia menekankan bahwa semua itu tidak penting dan tidak memberi faedah apa pun bagi masyarakat.

Rakyat, lanjut Hamid, lebih membutuhkan hal yang substantif dan penting dari para pejabat yang telah diberi amanah, terutama untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada, dibandingkan sekadar puja-puji kepada presiden.

"Mudah-mudahan pesan saya ini didengar oleh para pejabat yang bersangkutan. Rakyat kecil seperti saya dan Anda semua pendengar ini pasti tidak bisa berbuat apa-apa kecuali sekadar mengingatkan apa yang baik menurut kami. Kalau Anda bilang, kalau bapak-bapak menteri ini bilang tidak usah didengar, kita tidak bisa apa-apa juga," ujar Hamid.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags