Hamid Basyaib: Ada Perlombaan Pemujaan ke Prabowo di Kabinet Merah Putih

- Senin, 10 Agustus 2026 | 15:00 WIB
Hamid Basyaib: Ada Perlombaan Pemujaan ke Prabowo di Kabinet Merah Putih

Intelektual Hamid Basyaib menyoroti fenomena yang menurutnya sudah berlangsung setidaknya 1,5 tahun terakhir di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebut terjadi perlombaan pemujaan terhadap presiden di kalangan pejabat Kabinet Merah Putih.

"Yaitu, terjadi apa yang saya sebut perlombaan pemujaan terhadap Presiden Prabowo dari para pembantunya, dari para menteri dan jajarannya, bukan hanya menteri, dan terkesan terjadi kompetisi di antara mereka," kata Hamid dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (09/08/2026).

Menurut Hamid, para pejabat itu tampak berebut perhatian untuk menjadi pembantu yang paling disayang presiden. Strategi yang banyak disebut anak muda sebagai carmuk atau cari muka ke orang yang mengangkat derajat mereka.

"Sesuatu yang walaupun bukan yang pertama di dalam rezim ini kita punya Presiden begitu, nanti kita lihat juga di Orde Baru, tapi bisa dipastikan juga bahwa dalam periode kepresidenan Pak Prabowo ini intensitasnya tinggi sekali dan luasannya juga luas sekali karena melibatkan begitu banyak menteri," ujarnya.

Beberapa contoh yang ia soroti antara lain pernyataan Menteri Koperasi Ferry Juliantono yang menyebut program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) berasal dari wangsit atau bisikan gaib yang diterima Presiden Prabowo. Hamid mengaku heran hal seperti itu masih ada di dunia modern abad ke-21.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman juga kerap memuji keberanian dan arahan presiden. Hal serupa dilakukan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang banyak memuji Prabowo. Hamid pun mengingatkan bahwa Raja Juli dan partainya, PSI, pernah menobatkan Prabowo sebagai tokoh politik terburuk sebelum ia menjadi presiden.

"Ini ironinya luar biasa karena di masa Pak Jokowi dulu dia dan partainya waktu itu Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sampai menobatkan Prabowo sebagai tokoh politik terburuk segala macam dan menyebutnya pecundang lah macam-macem dan suatu ejekan yang luar biasa terhadap Pak Prabowo Subianto sebelum dia jadi Presiden. Sekarang, setelah jadi Presiden rupanya dia baru sadar ya Pak Prabowo itu justru bukan tokoh terburuk tapi tokoh yang benar-benar sangat terbaik dan mampu mengarahkan kebijakan yang begitu hebatnya. Alhamdulillah, Pak Raja Juli siuman, insaf gitu," kata Hamid.

Selain itu, ada Menko Pangan Zulkifli Hasan yang menyebut Indonesia beruntung punya Prabowo karena mampu menafsirkan keinginan para pendiri bangsa. Menteri Luar Negeri Sugiono juga menyebut banyak diplomat asing memuji pidato presiden.

Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko bahkan menyamakan program-program Prabowo dengan misi para nabi. Sementara Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat sampai menangis membela program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Kalau ada orang yang sampai menghujat atau mengecam programnya, maka kata dia mereka itu akan berhadapan dengan saya, itu suatu pernyataan yang heroik sekali tentu saja. Dalam bahasan sekarang dia seperti pasang badan untuk satu program yang bisa dibilang tidak ada urusan sedikit pun dengan lingkup kerja atau tupoksinya sebagai Menteri Lingkungan. Tapi, saya kira dalam rangka tadi, karena ini ada kompetisi pemujaan, maka orang seperti Pak Jumhur atau mungkin siapa lagi yang lain, itu sudah tidak terlalu pusing tentang tupoksinya, yang penting ngomong sesuatu yang bisa kurang lebih menyenangkan hatinya Bapak Presiden," ujar Hamid.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana juga sering mengemukakan pernyataan yang menyenangkan hati presiden sebelum ia menjadi tersangka. Kepala Bappenas Rachmat Pambudi menyebut MBG lebih mendesak dari lapangan kerja. Pengganti Dadan, Nanik S Deyang, bahkan menangis memilukan menanggapi kritik terhadap presiden. Hamid menyoroti sikap Nanik yang lebih perhatian pada reputasi presiden dibanding pelaksanaan MBG.

"Nah, jadi itulah kira-kira beberapa orang dan saya yakin masih ada lagi beberapa yang luput ya, baik di level yang sama maupun yang agak di bawah. Belum lagi juru bicara, juru bicara yang juga sering mengemukakan logika-logika yang cukup ganjil semuanya dalam rangka membela junjungannya yaitu Bapak Prabowo Subianto. Sebagai Presiden, sebagai Kepala Negara, sebagai Bapak yang mengangkat mereka di dalam posisi kenegaraan sekarang ini, sesuatu yang hemat saya tidak perlu sejauh itu," kata Hamid.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags