Fenomena alam langka menyapa kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, Jawa Timur, pada Jumat (17/7) pagi. Hamparan tanaman kering, rumput, hingga ranting pohon di area Paltuding tampak memutih akibat diselimuti embun upas atau embun es. Momen ini sempat diabadikan oleh seorang pemandu wisata dalam video pendek yang memperlihatkan lanskap Ijen yang mendadak mirip negeri bersalju.
“Lihat tuh jadi es. Lihat tuh beku di Ijen, putih semua. Haduh, dingin,” ucap perekam video heran sambil menunjukkan suasana, lalu beralih ke dirinya sendiri yang berpakaian tebal.
Perekam video bernama Johan menceritakan bahwa cuaca dingin ekstrem sudah terasa sejak ia tiba di lokasi pada pagi hari. "Tadi pagi sekitar jam 6, di pertigaan pos petugas tadi suhunya saya lihat 5 derajat. Kayaknya ini bisa di bawahnya lagi, bahkan pernah waktu itu di 2 derajat. Ini biasanya terjadi di bulan Juni dan Agustus," kata Johan. Meski menyaksikan langsung fenomena tersebut, Johan mengaku tidak sampai naik ke puncak gunung karena hanya bertugas sebagai driver yang mengantar tamu hingga Paltuding.
Penjelasan Pengelola TWA Kawah Ijen
Kepala TWA Kawah Ijen, Rusdi Santoso, membenarkan adanya fenomena embun beku tersebut. Menurutnya, kemunculan embun upas tidak terjadi setiap hari dan sangat bergantung pada kondisi cuaca. "Kejadian ini nggak setiap hari. Suhu di puncak sama Paltuding nggak beda jauh, walau suhunya 2 derajat itu kadang embun yang berubah jadi butiran salju seperti es," ujar Rusdi saat dihubungi.
Meski suhu udara turun drastis, Rusdi memastikan kawasan wisata Kawah Ijen masih aman untuk dikunjungi. Namun, ia mengimbau para pendaki untuk mempersiapkan fisik dan perlengkapan ekstra. "Operasional pendakian tetap aman, mungkin untuk antisipasi dingin pakai sarung tangan dan cebo (kupluk), selain pastinya jaket," tuturnya.
Mengapa Embun Es Bisa Terbentuk? Ini Penjelasan BMKG
Prakirawan BMKG Banyuwangi, Yustoto Windiarto, menjelaskan bahwa fenomena embun upas merupakan hal lumrah di dataran tinggi saat musim kemarau, atau yang biasa dikenal masyarakat Jawa sebagai musim bediding. "Embun es terbentuk saat suhu permukaan tanah atau tanaman turun drastis hingga di bawah titik beku (0°C). Pada malam hari yang cerah saat musim kemarau, uap air di udara tidak berubah menjadi titik air (embun), melainkan langsung mengkristal menjadi lapisan es tipis di atas permukaan," urai Yustoto.
Ia memaparkan tiga faktor lingkungan yang memicu proses deposisi instan ini. Pertama, langit tanpa awan membuat panas bumi terlepas langsung ke atmosfer tanpa ada tutupan awan yang memantulkannya kembali, memicu penurunan suhu signifikan pada malam hingga dini hari. Kedua, suhu udara ekstrem di dataran tinggi yang bisa anjlok hingga minus 5 derajat Celsius atau lebih rendah saat dini hari. Ketiga, kelembaban udara: uap air di sekitar permukaan tanah bersentuhan langsung dengan benda yang suhunya sangat dingin, sehingga langsung mengkristal.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 3,8 Guncang Toli-Toli, Getaran Terasa Cukup Kuat
Prakiraan Cuaca Sulsel: Cerah Berawan hingga Hujan Ringan, Waspada Angin Kencang di Selatan
BMKG: 60,5 Persen Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, El Niño Ikut Berperan
BMKG: 60,5 Persen Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, El Niño Masih Bertahan