Pekerjaan tetap dulu dianggap sebagai puncak keamanan finansial. Namun, bagi banyak pekerja muda saat ini, memiliki satu sumber penghasilan justru memicu kecemasan baru: bagaimana jika pekerjaan itu hilang, atau gaji tak lagi cukup menutupi biaya hidup yang terus naik?
Kegelisahan itu kini makin sering terdengar, dari obrolan kantor hingga media sosial. Banyak yang mulai mencari pekerjaan sampingan menulis lepas, berjualan daring, mengajar online, atau menjadi kreator konten. Fenomena yang dikenal sebagai side hustle ini tak lagi dipandang sebagai pekerjaan tambahan, melainkan bagian dari strategi hidup.
Data menunjukkan pergeseran ini nyata. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 15,45 persen pekerja di Indonesia memiliki pekerjaan tambahan pada 2023, angka tertinggi dalam lima tahun terakhir. Survei Katadata Insight Center (KIC) terhadap kelas menengah menemukan hampir separuh responden telah memiliki side hustle. Alasan utamanya bukan mengejar gaya hidup lebih tinggi, melainkan memperkuat ketahanan finansial di tengah ekonomi yang kian tak menentu.
Namun, tekanan ekonomi bukan satu-satunya penjelasan. Banyak pekerja dengan kondisi keuangan stabil tetap membangun sumber pendapatan kedua. Artinya, ada faktor lain yang mendorong keputusan ini.
Narasi yang Membentuk Keyakinan
Hampir setiap hari, publik disuguhi pesan tentang pentingnya memiliki multiple income, membangun personal branding, atau menciptakan pendapatan pasif. Narasi itu mengalir lewat media sosial, podcast, seminar, hingga cerita teman. Pesannya selalu sama: jangan bergantung pada satu sumber penghasilan.
Tidak ada yang salah dengan anjuran itu. Namun, ketika pesan terus diulang, ia perlahan berubah menjadi keyakinan bersama. Mengandalkan satu pekerjaan mulai dianggap berisiko, sementara memiliki side hustle dianggap lebih bijak. Padahal, di balik dorongan itu, ada kecemasan yang lebih dalam: kepastian pekerjaan tak lagi bisa dianggap permanen.
Perkembangan teknologi membuka banyak peluang ekonomi digital, tetapi juga mengubah pasar kerja dengan cepat. Gelombang PHK, otomatisasi, dan kecerdasan buatan membuat banyak pekerja sadar bahwa keamanan kerja bukan jaminan. Dalam situasi itulah memiliki lebih dari satu sumber pendapatan menjadi bentuk antisipasi terhadap risiko. Yang dicari bukan sekadar uang tambahan, melainkan ketenangan saat menghadapi kemungkinan terburuk.