Ustaz Budi Ashari mendorong para orang tua untuk menanamkan tauhid kepada anak sejak dini melalui momen-momen sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kajian yang diunggah di kanal YouTube pribadinya, Jumat (3/7), ia menjelaskan bahwa setiap peristiwa yang dialami anak, sekecil apa pun, bisa dikaitkan dengan kebesaran Allah. Pendekatan ini, menurutnya, penting untuk membangun "generasi yang tidak lepas dari Allah" di tengah pengaruh cara pandang sekuler yang membuat anak-anak tumbuh mengenal alam tanpa mengenal Penciptanya.
Ustaz Budi menekankan bahwa mendidik anak mengenal Allah tidak memerlukan teori rumit. Ia mencontohkan, momen membelikan sepatu baru, menyaksikan bulan purnama, atau bahkan komentar anak saat menonton pertandingan sepak bola dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan keberadaan dan kasih sayang Allah. Ia juga mengutip kisah Nabi Musa yang meminta rumput untuk kudanya dan garam untuk makanannya kepada Allah, meski merasa hal itu "sepele". Kisah ini mengajarkan bahwa urusan sekecil apa pun layak disandarkan kepada Allah, termasuk kebutuhan anak zaman sekarang yang jauh lebih besar nilainya, seperti sepatu bermerek.
Contoh lain yang diangkat adalah riwayat seorang pemuda yang menikmati keindahan bulan purnama, lalu ditegur Nabi Muhammad SAW dengan mengaitkannya pada gambaran manusia kelak melihat Allah di akhirat tanpa berdesak-desakan. Bagi Ustaz Budi, kisah ini menjadi bukti bahwa fenomena alam sekecil purnama pun bisa menjadi jembatan menuju pengenalan akan Allah dan hari akhir.
Tafsir Surah Nuh: Strategi Dakwah Lewat Alam
Bagian utama kajian ini mengupas Surah Nuh ayat 15–20, yang menceritakan bagaimana Nabi Nuh AS mengenalkan Allah kepada kaumnya lewat hal-hal yang mereka saksikan sehari-hari: langit tujuh lapis, bulan bercahaya, matahari yang panas, tanah yang menumbuhkan dan mengubur manusia, hingga bumi yang dihamparkan agar mudah dilalui. Menurut Ustaz Budi, strategi Nabi Nuh menonjol karena tidak menakut-nakuti umatnya dengan ancaman bencana alam, melainkan membangun rasa syukur atas nikmat yang mereka terima. Pengulangan kata "Allah yang menciptakan" pada beberapa ayat, katanya, sengaja ditekankan agar umat menyadari bahwa segala sesuatu di alam semesta berpangkal dari satu sumber: Allah SWT.
Diskusi ini juga menyoroti pola "tahu tapi tidak tahu" dalam ayat tersebut manusia mengenal tanah, bulan, dan matahari, namun tidak memahami proses penciptaan maupun rahasia di baliknya. Pola ini, menurut Ustaz Budi, menjadi bukti kenabian Nuh AS sekaligus pengingat bahwa ilmu manusia sangat terbatas dibanding ilmu Allah.
Tiga Jenis Ayat Allah
Di penghujung kajian, Ustaz Budi Ashari mengingatkan bahwa Allah menurunkan tiga jenis ayat kepada manusia: ayat yang tertulis (Al-Qur'an), ayat yang terlihat (alam semesta), dan ayat yang tersebar (interaksi antarmanusia). Ketiganya, ia tegaskan, tidak akan pernah bertentangan satu sama lain karena berasal dari sumber yang sama. Ia pun menyayangkan model pendidikan sains modern yang menurutnya cenderung "ateis", mengajarkan fenomena alam seperti hujan hanya dari sisi proses fisiknya tanpa menghadirkan peran Sang Pencipta. Padahal, katanya, pendekatan mengaitkan alam dengan Allah sejak dini terbukti efektif membentuk kesadaran tauhid anak sejak usia belia.