Organisasi Maritim Internasional (IMO) memutuskan untuk menghentikan sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz. Keputusan ini diambil setelah sebuah kapal kargo dilaporkan menjadi sasaran serangan di dekat perairan Oman, Kamis (26/6) lalu. Insiden itu langsung memicu kembali kekhawatiran global terhadap stabilitas jalur pelayaran paling strategis di dunia, meskipun baru-baru ini Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik.
Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan bahwa sebuah kapal kargo terkena proyektil saat berlayar di dekat Oman. Peristiwa itu terjadi hanya beberapa jam setelah Iran mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal asing agar tidak melintas di luar jalur yang telah ditetapkan oleh Teheran. Dua pejabat Amerika Serikat yang berbicara kepada Reuters menyebutkan bahwa proyektil tersebut ditembakkan oleh Iran, meskipun hingga saat ini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah AS maupun Iran terkait tuduhan itu.
Empat sumber yang mengetahui insiden tersebut mengidentifikasi kapal yang diserang sebagai Ever Lovely, sebuah kapal kargo berbendera Singapura. Seorang sumber keamanan menambahkan bahwa kemungkinan kapal itu menjadi sasaran serangan pesawat nirawak (drone). Menyusul insiden ini, IMO memutuskan untuk menghentikan sementara program pengawalan kapal yang baru saja diluncurkan beberapa hari lalu.
“Pelaksanaan program kami hentikan sementara untuk memastikan seluruh jaminan keselamatan bagi kapal-kapal dalam daftar evakuasi maupun kapal lain di kawasan tersebut tetap terpenuhi,” kata Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez, Jumat (26/6). IMO juga menegaskan bahwa kapal Ever Lovely tidak termasuk dalam program evakuasi yang mereka fasilitasi.
Program evakuasi baru berjalan dua hari
Program evakuasi IMO mulai dijalankan pada Selasa (24/6) sebagai langkah untuk membantu ratusan kapal dan ribuan awak yang sempat terjebak di Teluk Persia selama konflik berlangsung. Skema yang bersifat sukarela ini menyediakan dua jalur pelayaran menuju luar Teluk, yakni melalui perairan Iran dan perairan Oman, di bawah pemantauan internasional. Namun, laporan serangan terhadap Ever Lovely membuat operasi tersebut dihentikan sementara hingga situasi keamanan kembali dipastikan kondusif.
Iran perketat aturan di Selat Hormuz
Iran menegaskan bahwa hanya kapal yang menggunakan jalur pelayaran yang telah ditentukan oleh pemerintah Iran yang akan mendapat jaminan keamanan. Otoritas Selat Teluk Persia Iran menyatakan bahwa kapal yang berlayar di luar rute resmi tidak akan dijamin keselamatannya. Garda Revolusi Iran juga menegaskan akan mengambil tindakan terhadap kapal yang tidak mematuhi ketentuan tersebut. Perusahaan keamanan maritim Ambrey melaporkan bahwa dua kapal berbendera Panama sempat diperintahkan untuk mengubah haluan oleh Garda Revolusi Iran pada Kamis.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan energi dunia. Sebelum konflik pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia melintasi perairan tersebut setiap hari.
Harga minyak naik lagi
Laporan serangan terhadap kapal di Oman langsung berdampak pada pasar energi global. Harga minyak mentah acuan dunia naik sekitar 1,9 persen karena pelaku pasar kembali mengkhawatirkan gangguan distribusi minyak dari kawasan Teluk. Padahal sebelumnya, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz mulai kembali normal dan volume pengiriman minyak hampir menyamai kondisi sebelum konflik pecah. Menurut Wright, dalam 24 jam terakhir sedikitnya 20 juta barel minyak telah melintasi Selat Hormuz.
Ketegangan masih membayangi gencatan senjata
Meskipun AS dan Iran telah menyepakati kerangka awal penghentian konflik, sejumlah persoalan penting masih belum terselesaikan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan bahwa Washington akan mengambil langkah jika Iran kembali mengancam kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. “Jika Iran mengancam atau memblokir kapal di selat tersebut, maka kita akan menghadapi persoalan baru,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf membantah pernyataan AS yang menyebut bahwa aset Iran yang dibebaskan akan digunakan untuk membeli produk pertanian Amerika. Kedua negara dijadwalkan melanjutkan perundingan dalam 60 hari ke depan untuk membahas sejumlah isu yang masih menjadi ganjalan, termasuk program nuklir Iran, mekanisme inspeksi internasional, status Selat Hormuz, serta konflik yang masih berlangsung di Lebanon.
Artikel Terkait
Prabowo Dinilai Hadapi Tantangan Terbesar: Membersihkan Warisan Budaya Kekuasaan yang Membenci Kritik
Orang tua Sulit Minta Maaf pada Anak: Mitos Wibawa yang Justru Merusak Kepercayaan
Empati Masyarakat terhadap Penyandang Disabilitas Masih Rendah, Ejekan dan Konten Hinaan Marak di Media Sosial
Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Capai 188 Orang, 200 Masih Terjebak Reruntuhan