Perencana Keuangan Soroti Pentingnya Komunikasi Finansial bagi Generasi Sandwich

- Sabtu, 21 Februari 2026 | 02:00 WIB
Perencana Keuangan Soroti Pentingnya Komunikasi Finansial bagi Generasi Sandwich

MURIANETWORK.COM - Banyak generasi muda yang baru memasuki dunia kerja menghadapi tantangan keuangan yang kompleks. Perencana keuangan Yodhi Kharismanto mengamati, mereka yang masih berada di pekerjaan pertama dengan gaji setara UMR kerap kesulitan mengelola keuangan. Situasi ini semakin berat bagi mereka yang berstatus sebagai generasi sandwich, yaitu yang masih harus menanggung kebutuhan orang tua atau saudara. Menurut Yodhi, kunci mengatasi tekanan ini terletak pada komunikasi yang terbuka dan pengendalian diri dalam pengeluaran.

Pentingnya Komunikasi Terbuka dalam Keluarga

Yodhi menekankan bahwa beban finansial generasi sandwich seringkali dipersulit oleh budaya yang menganggap pembicaraan tentang uang sebagai hal tabu. Padahal, transparansi mengenai kemampuan finansial justru sangat krusial. Tanpa kejujuran ini, permintaan dari keluarga bisa terus mengalir tanpa batas, berpotensi membebani keuangan pribadi.

“Kita juga harus terbuka dengan orang-orang yang kita hidupi. Sebenarnya, ini yang kadang di Indonesia jarang dilakukan karena bicara keuangan kadang tabu ya,” ungkapnya dalam sebuah diskusi.

Ia mengingatkan bahwa pola ini sudah berlangsung lama, bahkan sejak zaman orang tua dulu yang enggan membicarakan gaji kepada anak-anaknya. Padahal, pemahaman yang jelas tentang kondisi keuangan anak dapat menciptakan ekspektasi yang lebih realistis dalam keluarga.

“Misalnya, kita menghidupi keluarga, orang tua, kita harus kasih tahu, Mama, Papa, gaji saya Rp 6 juta per bulan, saya mampu berkontribusi untuk Ayah, untuk Ibu agar keuangan saya aman sekian juta agar mereka memahami kemampuan anak saya sekian,” jelas Yodhi.

Dampak Ketidakterbukaan dan Solusinya

Berdasarkan pengalamannya menangani klien, Yodhi melihat cukup banyak generasi sandwich yang tidak pernah terbuka soal batas kemampuan mereka. Akibatnya, setiap permintaan dari orang tua atau saudara berusaha dipenuhi, sekalipun harus berutang. Niat berbakti dan membantu keluarga tentu sesuatu yang mulia, namun jika dilakukan tanpa batas yang jelas justru dapat menimbulkan masalah keuangan yang serius bagi individu tersebut.

“Jadinya kita sebagai individu jadi terluka, terbebani karena dia tidak berani jujur, akhirnya utangnya malah jadi banyak. Jadi, kita terbuka dengan orang yang terdekat kita agar dia tahu kemampuan kita berapa per bulan,” tegasnya.

Mengendalikan Emosi dan Pengeluaran

Selain komunikasi, Yodhi juga memberikan saran praktis untuk mengelola pengeluaran pribadi. Ia menyoroti bahwa dalam berbelanja, emosi seringkali lebih dahulu terpancing daripada logika. Oleh karena itu, memberikan jeda sebelum mengambil keputusan belanja adalah strategi yang efektif.

Menunda keputusan, misalnya satu menit untuk menenangkan diri atau bahkan 24 jam untuk meminta pertimbangan orang terpercaya, dapat membantu berpikir lebih rasional. Cara ini dianggap ampuh untuk menghindari jebakan tren seperti YOLO (You Only Live Once) atau FOMO (Fear of Missing Out) yang mendorong pengeluaran impulsif.

“Jangan semuanya lari ke hal-hal yang kita memang pengen aja. Nah, kalau kita sudah bisa mengontrol hal-hal yang seperti itu sudah sangat bagus banget, itu berarti kita sudah sangat cerdas dalam mengontrol pikiran kita,” tutup Yodhi.

Dengan kombinasi antara kejujuran pada keluarga dan kedisiplinan pada diri sendiri, generasi muda diharapkan dapat lebih tangguh menghadapi tekanan keuangan di awal karier mereka.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar