Di sisi lain, ia menilai MUI gagal melakukan pendalaman fakta atau tahkik manath soal tujuan sejati dewan tersebut. Menurut analisisnya, forum itu bukan untuk membebaskan Palestina. Justru sebaliknya, untuk memuluskan kepentingan Israel, termasuk pengusiran warga Palestina dari tanah air mereka sendiri.
Fakta di lapangan pun berbicara. Khozinudin mengingatkan rekam jejak Israel dan AS yang kerap melanggar kesepakatan gencatan senjata. Ia menyebut serangan udara di Al Mawasi, Gaza, akhir Januari lalu yang menewaskan puluhan sipil. Padahal, inisiatif perdamaian saat itu masih terus digaungkan.
Tak cuma dari kacamata agama, langkah ini juga dinilainya bermasalah secara konstitusional. UUD 1945 jelas menolak segala bentuk penjajahan. Dan apa yang dilakukan Israel di Palestina, itu adalah penjajahan dalam bentuknya yang paling nyata. Belum lagi soal prinsip politik luar negeri bebas-aktif yang bisa jadi ternoda.
Di penutup tulisannya, nada yang digunakan sangat keras. Dukungan MUI disebutnya sebagai bentuk legitimasi terhadap pembantaian. Ia bahkan menyatakan kesiapannya menjadi saksi di hadapan Tuhan atas sikapnya membela Palestina.
Pembahasan ini jelas belum selesai. Dan kritik seperti ini pasti akan terus bergema, menyusul setiap langkah politik yang dianggap mengabaikan penderitaan rakyat Palestina.
Artikel Terkait
Harga Pertalite dan Solar Resmi Naik, Pemerintah Janjikan Bansos Tambahan
Kucing Savannah: Pesona Eksotis yang Membawa Tantangan
Lansia dan Vaksin COVID-19: Perisai Penting Lawan Gejala Parah
Sri Mulyani Buka Suara: Subsidi BBM Bakal Disesuaikan, Ini Skema Bantalan Sosialnya