"Ada apa denganmu...!"
gumamku.
Seolah membaca pikiranku, pesan kedua segera menyusul.
"Aku tidak butuh interogasi darimu saat ini, aku hanya ingin kau datang menjumpaiku di kafe pojok daerah Tamansari."
Ya sudah. Niatku untuk menjejali dia dengan pertanyaan pun menguap. Padahal, baru dua minggu lalu kami sepakat untuk melepaskan. Saat dia pamit pulang ke kotanya, untuk memulai hidup baru dengan pria pilihan keluarganya. Di surat perpisahan yang kuselipkan di tasnya, di paragraf terakhir, ada sebaris doa. Kudoakan, jika bahagia tak kunjung datang, dia boleh kembali ke Bandung. Kembali pada sisa-sisa kisah kami. Mungkin doa itu didengar.
Oh iya, dulu kami punya ritual aneh. Setiap habis kencan, kami memakai parfum yang sama.
"Sebagai bentuk usaha agar bau harum kita selalu menyatu, tidak dipisahkan oleh ruang dan waktu,"
katamu waktu itu. Ide gila! Aku harus rela pulang kos dengan wangi melati yang semerbak, ditertawakan anak-anak tongkrongan di sepanjang jalan.
"
Gajuakopi, Jl Sawunggaling. Sabtu sore.
Aku datang terlambat. Janjian jam lima, tapi siapa yang tidak tahu macet Bandung di akhir pekan? Jalanan seperti showroom mobil berjalan pelan. Aku tiba lewat lima belas menit. Dari atas ojek online, kulihat dia sudah duduk. Dia menyadari kedatanganku, tapi raut wajahnya dingin. Tenang saja menyruput Matcha-nya yang mungkin sudah tak hangat lagi.
"Sudah lama?"
sapaku, mencoba memecah keheningan yang mulai mengental.
"Maaf tadi jalan Ahmad Yani sangat padat. Beberapa kali tukang ojek berusaha menyalip namun tidak ada space untuk motor."
Aku tahu alasan macet itu klise. Dia juga pasti tahu. Tapi daripada diam.
Dia tidak langsung menanggapi. Malah, dengan suara datar, dia mulai bercerita.
"Bisnis ayahku bangkrut dan partnernya kecewa. Mereka sedang mengurus perkara di Pengadilan pada beberapa aset yang masih tersisa."
Aku mengangguk, berusaha empati. Tapi di kepala, aku bertanya-tanya: apa hubungannya ini dengan pertunangannya?
Seolah menjawab pertanyaanku, dia melanjutkan.
"Rencana pernikahanku gagal. Aku kabur kembali ke Bandung. Mungkin kau tidak pernah menduga, pernikahanku itu cuma bagian dari kesepakatan bisnis."
Dia memandangku. Lalu, dengan kalimat yang lebih pelan,
"Rekan bisnis ayahku merupakan ayah dari tunanganku. Ternyata sebegitu mengerikan menjadi manusia di dunia modern yang menghamba pada akumulasi kekayaan."
Dan setelah itu, hening. Hanya suara lalu lalang di luar kafe. Aku menatapnya, mencerna semua yang baru saja diucapkannya. Bandung, kota ini, sekali lagi menghadirkanku pada sebuah bab baru. Pada rindu yang ternyata tak pernah benar-benar tuntas.
Artikel Terkait
Rita Pasaraya Cilacap Ludes Dilahap Api, Puluhan Jam Belum Padam
Panglima TNI dan Pimpinan TNI Hadiri Rakornas 2026, Pacu Kolaborasi Menuju Indonesia Emas
Ribuan Aplikasi Pemerintah, Siapa yang Tersesat di Rimba Digital?
Rita Pasaraya Cilacap Ludes Dilahap Api, Pemadaman Berlanjut hingga Dini Hari