Pemberitahuan itu terus bergema, bergantian antara bahasa Indonesia dan Inggris, mengingatkan penumpang untuk bersiap. "Penumpang yang terhormat, sesaat lagi kereta api KA Parahyangan akan tiba di pemberhentian akhir, stasiun Bandung." Suara itu seperti mantra yang memecah lamunanku.
Ragaku ada di dalam gerbong, tapi pikiran sudah melayang jauh. Ia mengembara ke setiap sudut kota Bandung, tentu saja bersama Kirana. Bunyi roda kereta yang berdetak ritmis malah jadi pengiring yang pas untuk khayalan-khayalan ini.
Malam belum terlalu larut ketika kereta akhirnya berhenti. Aku, yang dari tadi duduk di gerbong belakang dekat jendela, sudah siap dengan tas ransel. Ingin segera turun. Ingin segera mengejar hati yang konon katanya tertinggal di sini.
"Akhirnya tiba pada rindu yang belum tuntas, pada wajah Kirana yang masih tersisa di setiap sudut kota ini,"
begitu gumamku pelan.
Langkah pertama menginjak peron stasiun Bandung selalu spesial. Aku menarik napas dalam-dalam, menahannya sesaat, lalu menghembuskannya perlahan. Rasanya seperti seorang pembicara yang akan naik panggung, ada getaran halus di dalam dada. Aku berusaha menyadari: aku benar-benar kembali. Kembali ke tanah Pasundan, dengan rindu yang membuncah pada seorang gadis dan masa lalu kami.
Memang aneh ya cara semesta bekerja. Hal yang kita inginkan kadang menjauh, sementara yang kita lepaskan justru mendekat lagi. Serangkaian misteri yang entah mengapa terasa menyenangkan.
"Bade kamana, kang. naik ojek?"
Suara seorang mang ojek di trotoar depan stasiun membuyarkan lamunanku.
"Nggak, Mang. Dekat kok,"
jawabku sambil tersenyum halus. Aku memilih berjalan kaki. Biar aku dan Bandung bercengkerama dulu sebentar. Aku juga belum memberi kabar padanya soal kedatanganku ini. Biarlah jadi kejutan.
"
Paskal Food Market, 18:30. Untuk Kirana.
Tempat favorit kami itu cuma lima menit jalan kaki dari stasiun. Aku berjalan santai, menyerap suasana malam kota. Ada perasaan asing yang menyelinap. Kota ini dulu selalu menghadirkan luka, tapi sekaligus membuatku jatuh hati berulang kali.
Di foodcourt, aku duduk di area outdoor. Pesanku segelas jahe hangat dan nasi goreng ikan asin. Dia pasti paham, aku sangat doyan segala jenis ikan. Dan bahwa aku tak akan pernah menyentuh daging ayam.
"Kenapa sih kau begitu tidak suka pada daging ayam,"
tanyanya dulu, saat hujan memaksa kami mampir di warung mie ayam.
"Semua orang punya makanan yang tidak disukai,"
jawabku waktu itu sambil lalu. Saat itu, dia lahap semangkuk mie, sementara aku cuma ngemil kerupuk pangsit dari piringnya. Pikiranku terus melayang pada kenangan-kenangan kecil semacam itu. Susah dibendung.
"
Kisah kami, yang kupikir sudah tamat, rupanya belum. Semesta suka bercanda. Tiga hari lalu, saat aku sedang nongkrong di Warmindo pinggiran Jakarta, notifikasi WA-ku berbunyi.
"Aku ingin bertemu denganmu, dua hari lagi pada hari Sabtu. Kafe langganan kita."
Pesan singkat itu bikin jantungku berdebar kencang. Aku seperti anak kecil yang dipermainkan. Dikasih permen, lalu disembunyikan. Pas aku sudah pasrah, eh dikasih kabar lagi.
Artikel Terkait
Rita Pasaraya Cilacap Ludes Dilahap Api, Puluhan Jam Belum Padam
Panglima TNI dan Pimpinan TNI Hadiri Rakornas 2026, Pacu Kolaborasi Menuju Indonesia Emas
Ribuan Aplikasi Pemerintah, Siapa yang Tersesat di Rimba Digital?
Rita Pasaraya Cilacap Ludes Dilahap Api, Pemadaman Berlanjut hingga Dini Hari