Gapruk dan Kebebasan: Kisah Awan, Pemulung yang Lebih Takut Dikurung daripada Dihina

- Senin, 02 Februari 2026 | 20:54 WIB
Gapruk dan Kebebasan: Kisah Awan, Pemulung yang Lebih Takut Dikurung daripada Dihina

Pagi masih basah ketika Awan Setiawan mulai menyusuri Jalan Tentara Pelajar, Tanah Abang. Langkahnya pelan, karung putih tersampir di pundak. Namun begitu langit menggelap dan sore perlahan kabur, itu pertanda jam istirahatnya tiba. Karung itu kini tergeletak di tepi jalan, berisi botol plastik dan kemasan camilan yang campur aduk ia menyebutnya 'gapruk'. Dari tumpukan sampah itulah ia bertahan hidup.

"Mulungnya pagi," katanya suatu Senin di awal Februari.

Rutinitasnya dimulai usai subuh. Ia berkeliling pasar dan jalanan sekitarnya, tempat orang-orang biasanya membuang sampah di waktu itu. Plastik yang terkumpul lalu dibawa ke sebuah lapak dekat Pasar Palmerah untuk ditimbang.

Harganya tak seberapa, cuma Rp 2.000 per kilogram. Kalau karungnya penuh, mungkin ia bawa pulang sekitar dua puluh ribu rupiah. Tapi lebih sering, hasilnya cuma sepuluh atau lima belas ribu. Cukup untuk makan sehari.

"Paling dapet buat makan doang," ujarnya.

Sudah lama sekali Awan hidup seperti ini. Ia masih ingat kerusuhan 1998, era ketika ia masih muda dan sudah memulung. Kini usianya lewat 60 tahun. Tubuhnya tak lagi sekuat dulu; kena hujan sedikit, bisa jatuh sakit dan terpaksa minum obat-obatan tradisional China.

Sebelum hidupnya sepenuhnya bergantung pada sampah, Awan sempat mencoba bekerja. Ia jualan koran keliling pakai sepeda, jadi kernet di pabrik, bahkan sempat bekerja di pabrik minuman. Tapi pekerjaan itu punya aturan dan jam kerja yang mengikat.

"Dulu tuh kalau mikir kerja (di pabrik) itu, kalau bukan waktunya istirahat, enggak boleh, diomel-omelin. Kalau mulung kan bebas," tuturnya, senyum simpul mengembang.

Memang, memulung memberinya kebebasan. Tapi kebebasan itu punya harganya. Hinaan, misalnya. Ia sudah terbiasa dipanggil 'gembel' oleh orang yang lewat. Awan cuma memilih diam.


Halaman:

Komentar