"Ya cuman mulung gitu lah, orang hina-hina gitu. 'Gembel'. Ya biarin aja, yang penting saya enggak ngambil barang orang, nyolong gitu," tegasnya.
Di sisi lain, ia menyimpan satu kenangan yang agak berbeda. Pernah ia baca di koran, pernyataan Presiden Prabowo yang bilang lebih menghormati pemulung daripada orang korupsi. Kalimat itu ia simpan baik-baik.
Tapi pengalaman paling pahitnya bukan soal hinaan. Melainkan dua kali ia "dikurung" oleh petugas Departemen Sosial, dibawa ke kawasan Kedoya, Jakarta Barat.
"Saya udah pernah dua kali dikurung Depsos. Wah saya tersiksa kalau dikurung," kenangnya dengan suara rendah.
Di tempat itu, nasibnya malah makin suram. Uang yang dibawanya ludes diminta penghuni lain yang lebih dulu masuk.
"Duit saya yang dibawa abis ya kan. Yang masuk duluan minta rokok, kopi. Kalau saya ngelawan, ya saya dikeroyok, dia udah masuk duluan, kompak. Saya takut kan."
Sejak itu, rasa takut itu menetap. Ia tak berharap banyak dari pemerintah. Rumah atau pekerjaan tetap, itu bukan permintaannya. Harapannya cuma satu, sederhana tapi mendesak: jangan lagi dikurung.
Awan hidup sendirian. Tak berkeluarga, tak punya rumah. Tidurnya di trotoar sekitar halte dan Stasiun Palmerah. Rumah warisan orang tuanya dulu kini dikuasai adiknya setelah ada konflik keluarga. Begitulah hari-harinya berputar: di sekitar pasar, karung usang, dan tumpukan sampah yang tak pernah habis.
Artikel Terkait
Motor Sudah Lunas, Malah Ditarik Paksa: Polisi Turun Tangan Bantu Ibu di Depok
Misi Evakuasi Berujung Maut, Petugas Satpol PP Tewas Dibacok ODGJ di Kebumen
Kesepian di Era Terhubung: Ironi Dunia yang Semakin Digital
Atap Madrasah di Bogor Ambruk, Siswa Beralih Belajar Daring