Dwi Wahyu lantas mengkritisi proses rekrutmen PPPK untuk program MBG. Ia mendorong pemerintah agar punya skala prioritas yang jelas. Jangan sampai timpang. Memang, dapur dan operasional MBG itu penting, tapi sifatnya pendukung. Yang utama tetaplah guru.
Lalu, apa solusinya?
Di sisi lain, DPRD DIY tak hanya berpangku tangan. Mereka sedang mengupayakan pemanfaatan Dana Keistimewaan atau Danais untuk memberi insentif tambahan bagi para guru. Rencananya, mereka juga akan terbang ke Jakarta untuk berkonsultasi dengan kementerian terkait, mencari celah fleksibilitas regulasi agar daerah bisa lebih leluasa berbuat.
Yang lebih besar lagi, mereka mendorong lahirnya Undang-Undang Perlindungan Guru. Impiannya sederhana: agar guru bisa mengajar dengan nyaman, tanpa beban, dan terlindungi secara hukum.
"Kami ingin guru bisa mendidik dengan nyaman, tanpa rasa takut dikriminalisasi," pungkas Dwi Wahyu.
"Kesejahteraan dan perlindungan hukum harus berjalan bersama. Baru kemudian kita bisa bicara tentang kemajuan pendidikan Yogyakarta yang sesungguhnya."
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, VinÃcius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral