Debat Nasab: Ilmu atau Sekadar Alat?
Lalu ada polemik soal nasab Ba‘alawi. Jangan dilihat ini cuma sebagai perdebatan kering di menara gading. Ada konteks yang lebih besar: siapa yang diuntungkan kalau otoritas para habib ini goyah?
Dalam catatan sejarah Islam, kelompok Sayyid dan Alawiyyin sering jadi sasaran represi. Bukan karena ajaran mereka salah, tapi karena legitimasi politik dan moral yang melekat pada diri mereka dianggap berbahaya oleh penguasa. Tekanan politik terhadap Ahlul Bait di masa lalu menjadi salah satu pendorong migrasi mereka ke Asia Tenggara.
Maka, wajar jika kini muncul kecurigaan. Isu nasab yang tiba-tiba ramai bisa jadi bukan murni keinginan mencari kebenaran ilmiah, melainkan alat untuk mendeligitimasi sebuah komunitas yang punya pengaruh luas.
Ini bukan berarti semua kritik dilarang. Kritik ilmiah itu sah dan justru diperlukan. Tapi ketika kritik berubah jadi cacian massal, ketika generalisasi dipakai untuk menghapus semua jasa sejarah, dan ketika emosi menguasai panggung yang sedang terjadi bukan lagi diskusi ilmu. Itu murni politik identitas.
Penutup: Ketahanan Sebuah Warisan
Yaman memang sedang terluka. Konflik dan krisis kemanusiaan melanda. Tapi, terlepas dari semua itu, Hadramaut tetaplah salah satu sumber peradaban Islam. Negeri yang telah melahirkan ilmuwan, ulama, dan pendakwah yang jejaknya menyebar ke seluruh penjuru, termasuk Indonesia.
Menyerangnya dengan dalih menguji nasab, tapi dilakukan tanpa adab dan kehati-hatian, sama sekali tidak membela kebenaran. Itu hanya mengulang pola lama: melemahkan lawan dengan meruntuhkan sejarahnya.
Dan pada akhirnya, sejarah punya catatannya sendiri. Negeri dan keturunan yang bertahan bukan yang paling lantang mencaci, melainkan yang konsisten memberi makna bagi sekelilingnya.
(Oleh: Tamzilul Furqon S.Pd.)
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral