Nebeng Haji: Watak Oportunis Wamen Haji dalam Mengurus Ibadah Haji
✍🏻Kang Irvan Noviandana
Bagi banyak muslim Indonesia, ibadah haji kini bukan cuma persoalan biaya. Ada hal lain yang lebih pelik: kuota dari Arab Saudi yang terbatas. Antreannya bisa memakan waktu puluhan tahun. Ironisnya, tak sedikit yang akhirnya meninggal dunia sebelum namanya dipanggil untuk berangkat.
Dalam situasi serba sulit seperti ini, mestinya setiap jalan yang sah untuk menunaikan haji dilihat sebagai sebuah kemaslahatan. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Ada yang memandangnya dengan sinis, lalu melabelinya dengan istilah “nebeng haji”.
Istilah itulah yang menurut saya justru mengungkap watak pejabatnya. Kata “nebeng” punya konotasi merendahkan. Seolah-olah para petugas haji adalah pihak yang cari untung dari situasi, bukan manusia biasa yang juga punya kerinduan spiritual sembari mereka menjalankan tugas pengabdian.
Di sisi lain, istilah itu secara tak langsung menciptakan kelas. Haji yang “benar” seakan-akan hanya milik mereka yang bayar penuh melalui jalur reguler. Sementara, jalur tugas dianggap sebagai bentuk penyimpangan. Pandangan semacam ini berbahaya. Ia mengerdilkan haji menjadi sekadar proyek administratif belaka, bukan lagi sebagai amanah suci untuk melayani umat.
Artikel Terkait
Gencatan Senjata Hanya di Atas Kertas, Gaza Kembali Dibombardir
Keluarga Penjambret Tewas Protes Sikap DPR: Kenapa Kami Tak Diwakili?
Ketika Naik Jabatan Tak Lagi Jadi Mimpi: Fenomena Bekerja Tanpa Karir di Indonesia
Dua Pejabat, Satu Semangat: Sigit dan Jokowi Berjuang Habis-Habisan untuk Agenda Masing-Masing