Tamparan Langit untuk Jokowi
Oleh: Saiful Huda Ems
Lawyer dan Analis Politik
Dulu, Jokowi bilang begitu lengser nanti, dia cuma mau pulang ke Solo. Hidup tenang sebagai rakyat biasa. Itu janjinya. Tapi kenyataan? Jauh panggang dari api. Tingkah polahnya justru makin menjadi-jadi.
Lihat saja apa yang terjadi. Alih-alih menepi, dia malah sibuk memelihara apa yang disebut "Termul". Tak hanya itu, dia pun turun tangan jadi tim sukses untuk sejumlah calon kepala daerah. Nah, beberapa dari mereka itu sekarang berurusan dengan KPK karena kasus korupsi. Ambil contoh Bupati Pati dan Walikota Madiun.
Lalu, ada lagi drama yang menggelikan. Warga dari berbagai daerah tiba-tiba berduyun datang ke rumahnya. Ada yang sampai menangis, memuji-muji. Kelihatan sekali itu settingan. Semua diatur agar terkesan ada kerinduan massa padanya. Sungguh sebuah pertunjukan yang dipaksakan.
Setelah berhasil mengobrak-abrik hukum dan demokrasi, fokusnya kini beralih. Dia habiskan energi untuk membesarkan partai politik yang diketuai anaknya sendiri. Bahkan, di hadapan kader PSI, dia berjanji akan blusukan lagi. Mengunjungi puluhan provinsi, ratusan kabupaten, ribuan desa. Semua demi kemenangan partai itu.
Tapi di sisi lain, soal panggilan pengadilan untuk kasus ijazah palsunya? Dia selalu absen.
Dia dipanggil ke Pengadilan Negeri Surakarta, tidak datang. Dipanggil lagi ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, juga mangkir. Padahal, berkali-kali dia bilang siap datang dan menunjukkan ijazah asli jika dipanggil secara resmi. Lantas, mana konsistensinya?
Ini situasi yang serba salah. Kalau kita bersuara kritis, kita akan dicap sakit hati atau belum bisa move on oleh para "Termul"-nya. Tapi kalau kita diam saja, kejahatannya akan terus merajalela. Meski, tamparan dari langit sepertinya mulai satu per satu menghampirinya.
Wajahnya yang lebam, rambut yang menipis, gigi yang tak lagi rapi. Setiap hari, hujatan datang bertubi-tubi. Baik dari mantan pendukungnya, apalagi dari lawan-lawan politik. Dia sedang menuai apa yang dia tanam: dusta, pengkhianatan, dan kelicikan. Caci maki dari jutaan orang yang sudah muak tak pernah berhenti.
Yang menarik, orang-orang hebat dari akademisi, politisi, hingga purnawirawan jenderal kini vokal mengkritiknya.
Di sisi lain, justru orang-orang yang dianggap 'sontoloyo' preman atau advokat yang dicopot izinnya berpakaian ala militer dengan bintang-bintang imitasi, mendeklarasikan diri sebagai komandan "Termul". Memalukan, bukan?
Ini akhir yang tragis untuk seorang mantan presiden. Dia mengkhianati rakyat yang dulu mempercayainya. Dia menjadikan diri dan keluarganya sebagai tokoh negara, tapi tak pernah bersyukur. Malah makin beringas, merusak tatanan yang ada.
Sapere aude! Beranilah berpikir! Salam revolusioner! Merdeka! ✊️… (SHE)
Sabtu, 31 Januari 2026.
Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan Analis Politik.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu