Thailand Hidupkan Lagi Protokol Pandemi, Kali Ini untuk Antisipasi Virus Nipah

- Jumat, 30 Januari 2026 | 08:18 WIB
Thailand Hidupkan Lagi Protokol Pandemi, Kali Ini untuk Antisipasi Virus Nipah

Thailand Siagakan Lagi Protokol Covid-19, Kali Ini untuk Antisipasi Nipah

Langkah-langkah pengendalian penyakit era pandemi Covid-19 dihidupkan kembali oleh pemerintah Thailand. Kali ini, kewaspadaan ditingkatkan untuk menghadapi ancaman virus Nipah yang sedang merebak di negara lain.

Perdana Menteri Anutin Charnvirakul mengonfirmasi hal ini. Ia menyebut sistem penyaringan kesehatan masyarakat telah disesuaikan berdasarkan model yang dulu dipakai saat Covid-19 melanda.

"Sistem penyaringan kesehatan masyarakat telah disesuaikan berdasarkan model yang kita gunakan selama wabah Covid-19 di Thailand," ujarnya, seperti dilaporkan Bangkok Post.

Pemicu kewaspadaan ini adalah munculnya kasus di Benggala Barat, India. Di sana, lima tenaga kesehatan dilaporkan tertular, termasuk dokter dan perawat. Meski belum ada laporan kasus di Thailand, Anutin bersikeras kewaspadaan harus ditingkatkan. Alasannya jelas: belum ada obat atau vaksin untuk virus yang satu ini.

Virus Nipah sendiri dikenal mematikan. Penyakit zoonosis yang dibawa kelelawar buah ini menyerang sistem pernapasan dan bisa menyebabkan radang otak akut. Angka kematiannya sangat tinggi.

India Waspada, Bali Perketat Pengawasan

Di India, wabah di Benggala Barat telah mengonfirmasi lima kasus di awal 2026. Sekitar seratus orang dikarantina mandiri. Satu pasien dilaporkan kritis. Virus ini memang ditakuti. WHO menggolongkannya sebagai patogen berisiko tinggi, dan penularan ke manusia biasanya lewat buah terkontaminasi sering berakhir fatal.

Kekhawatiran pun merambah ke negara tetangga. Di Bali, Bandara I Gusti Ngurah Rai langsung bergerak. Mereka menempatkan thermal scanner di area kedatangan internasional dan domestik, plus terminal VIP. Koordinasi dengan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan diperketat.

"Seluruh personel di lingkungan bandara berkomitmen untuk melakukan pengawasan secara ketat dan menyeluruh," kata Gede Eka Sandi Asmadi, Communication and Legal Division Head bandara tersebut.

Jika ada penumpang bergejala, protokolnya jelas: dirujuk ke rumah sakit rujukan di Denpasar. Sandi juga mengimbau penumpang proaktif menjaga kesehatan dan melapor jika merasakan gejala seperti demam.

Respons Indonesia: Skrining Otomatis, Tapi Belum Masif

Bagaimana respons pemerintah Indonesia? Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus angkat bicara. Ia mengakui Nipah adalah virus mematikan, namun menenangkan.

“Virus Nipah itu sudah ada sejak 1998. Memang angka kematiannya sangat tinggi, tetapi jumlah kasus di dunia ini belum sampai 1.000 kasus,” ujar Ben.

Menurutnya, virus ini belum sampai ke Indonesia. India sendiri disebutnya sudah melakukan lockdown lokal untuk mencegah penyebaran. Untuk antisipasi, Indonesia mengandalkan skrining suhu di bandara.

“Di Indonesia otomatis sudah melakukan skrining. Jadi kita punya alat deteksi di bandara... tetapi memang skrining seperti COVID belum kita lakukan,” pungkasnya.

Kabar Baik dari IDAI: Belum Ada Kasus pada Manusia

Dari sisi ahli, ada kabar yang cukup melegakan. Prof. Dr. dr. Dominicus Husada dari IDAI menyatakan, virus Nipah belum pernah ditemukan menginfeksi manusia di Indonesia.

"Virus nipah di Indonesia belum pernah ditemukan pada orang, tapi pada kelelawar ada," jelas Prof Domi.

Penelitian Kemenkes tahun 2023 memang menemukan virus ini pada kelelawar pemakan buah di Sumatera Utara. Itu artinya reservoir virus ada di sini. Sayangnya, jalan masih panjang untuk pencegahan. Vaksin yang sedang diuji coba di Inggris baru masuk tahap dua, butuh waktu bertahun-tahun lagi sebelum bisa digunakan.

Jadi, situasinya seperti ini: ancaman di depan mata, persiapan belum sempurna, tapi kewaspadaan mulai ditingkatkan. Semoga cukup.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar