Bogor diguyur hujan sore itu. Tapi di sebuah rumah sederhana di Bojonggede, ada kehangatan lain yang jauh lebih terasa. Sudrajat, penjual es gabus yang namanya mendadak viral, duduk terduduk. Air matanya tak terbendung, lalu ia pun bersujud. Di depannya, Aishar Khaled, selebgram asal Malaysia, baru saja mengucapkan kata-kata yang selama ini hanya jadi impian: hadiah umroh untuknya dan istrinya.
Kedatangan Aishar pada Rabu (28/1) itu memang penuh kejutan. Setelah melihat viralnya kasus Sudrajat yang diinterogasi dan dagangannya dirusak oknum aparat, pria itu memutuskan untuk datang langsung. Bukan cuma ingin tahu, tapi juga memberi.
"Bapak jualan es gabus itu sudah berapa lama?" tanya Aishar memulai percakapan.
"30 tahun," jawab Sudrajat lugas.
"Sekarang umurnya berapa?"
"50 tahun," ujarnya lagi.
Artinya, separuh hidupnya dihabiskan dengan berkeliling menjajakan es gabus. Hasilnya? Cuma sekitar dua puluh sampai tiga puluh ribu rupiah per hari. Jumlah yang sangat pas-pasan untuk menopang hidup. Dalam video yang diunggah Aishar, dia menjelaskan alasan memberi hadiah pada sang istri juga.
"Seharusnya bapak seorang yang berangkat umroh. Karena dia sayang sama istri, dia ingin berangkat umroh bersama istrinya," kata Aishar.
Rupanya, keinginan untuk umroh itu sudah lama mengendap di hati Sudrajat. Saat mengajak Aishar berkeliling melihat rumahnya yang rusak diterpa banjir, ia bercerita.
"Saya mau lihat makam Nabi Muhammad SAW," ucapnya penuh haru. Dengan penghasilan yang tak menentu, impian terbesarnya cuma satu: bisa naik kapal untuk menunaikan ibadah umroh.
Mendengar janji pemberian itu, emosi Sudrajat langsung meluap. Tangis bahagia. Ia bersujud syukur di tempat. Sang istri, tak kalah terharu, mendoakan kebaikan untuk Aishar. "Semoga diberi kesehatan dan kelancaran rezeki," ujarnya.
Semua ini berawal dari sebuah video yang menyebar pada Sabtu, 24 Januari 2026. Dalam rekaman itu, Sudrajat terlihat dagangannya sekitar 150 es dibakar dan diinjak oleh oknum TNI dan Polri. Mereka menuduhnya menjual es dari spons. Padahal, Sudrajat bersikukuh esnya asli dari pabrik di Depok. Ia bahkan trauma, sampai-sampai tak berjualan selama tiga hari pasca-kejadian.
Namun begitu, hasil penyelidikan Tim Keamanan Pangan Dokpol Polda Metro Jaya kemudian membuktikan kebenaran kata-katanya. Sampel es yang dijualnya dinyatakan aman dan layak konsumsi.
Pasca-penyelidikan itu, permintaan maaf pun mengalir. Aiptu Ikhwan Mulyadi, Bhabinkamtibmas setempat, dan Serda Heri Purnomo sebagai Babinsa, datang menyampaikan penyesalan. Bahkan, difasilitasi Dandim 0501/Jakarta Pusat, Kolonel Inf Ahmad Alam Budiman, Serda Heri mendatangi rumah Sudrajat pada Selasa (27/1). Mereka berpelukan. "Peristiwa yang berawal dari kesalahpahaman di lapangan... telah diselesaikan secara baik melalui pendekatan kekeluargaan," jelas sang Dandim.
Kini, setelah air mata dan permintaan maaf, datanglah sebuah anugerah tak terduga. Bukan sekadar ganti rugi materi, tapi sebuah perjalanan spiritual yang mungkin tak pernah terbayangkan oleh Sudrajat dan istrinya. Sebuah akhir yang manis, setelah melalui hari-hari yang pahit.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu