✍🏻 Balqis Humaira
Negara Ini Bukan Lagi Salah Urus, Tapi Salah Niat.
Begini, ya. Ini bukan cuma perkara angka-angka di atas kertas. Ini jauh lebih dalam: soal bagaimana kita menata nilai-nilai hidup. Apa yang kita anggap penting, dan apa yang kita anggap sepele.
Kalau gaji tukang cuci piring lebih besar daripada upah orang yang bertugas membentuk pikiran manusia, pesannya cuma satu: negara ini lebih takut melihat piring kotor ketimbang otak yang kosong.
Dan ini bukan kiasan belaka. Ini kenyataan yang terjadi di depan mata.
Coba lihat. Seorang tukang cuci piring bisa dapat 2,7 juta. Sopir pengantar makanan bisa 3 juta. Sementara guru honorer? Cuma 300 ribu.
Uang segitu bukan gaji. Itu lebih mirip uang kasihan. Sinyal halus untuk bilang, "Kamu memang penting, tapi jangan berharap bisa hidup layak dari sini."
Lalu kita masih heran? Kenapa makin hari makin banyak orang bego yang pede, orang licik yang diidolakan, orang tolol yang dapat panggung lebar.
Ya jelas. Dari hulunya saja, kita sudah mengirim pesan yang salah ke semua orang pintar.
"Kalau mau hidup layak, jangan jadi guru. Kalau mau berbakti pada bangsa, bersiaplah hidup susah."
Inilah sistemnya. Secara halus namun kejam, ia mengusir orang-orang cerdas dari dunia pendidikan.
Di sisi lain, negara sibuk bertanya: "Kenapa kualitas pendidikan turun?" atau "Kenapa SDM kita kalah saing?"
Jawabannya sebenarnya sederhana. Karena orang yang Anda andalkan untuk mencetak SDM unggul, justru Anda buat hidupnya ambruk.
Coba pikirkan. Kalau Anda pintar, punya ambisi, dan melihat fakta ini: jadi guru berarti miskin dan tak dihargai, sementara pilihan lain menawarkan harapan hidup lebih baik. Orang waras akan pilih apa?
Jangan bawa-bawa kata "pengabdian". Pengabdian itu mulia kalau yang dilayani juga punya hati, tidak tega melihat kita kelaparan.
Ini bukan pengabdian. Ini eksploitasi yang dibungkus dengan kata-kata indah.
Memang aneh negara ini. Dana untuk bangun gedung selalu ada. Proyek-proyek megah dianggarkan triliunan. Beli alat pertahanan, tidak masalah.
Tapi begitu bahas kesejahteraan guru, langsung muncul seribu alasan. "Belum ada anggarannya," kata mereka. Atau, "Harus bertahap." Padahal, tanpa guru, semua yang lain itu tak ada artinya.
Pejabat yang menandatangani anggaran itu dididik oleh guru. Insinyur yang membangun gedung itu juga diajar guru. Begitu pula dokter yang menyelamatkan nyawa.
Tapi kini, gurunya sendiri disuruh hidup dari recehan sistem. Ini bukan sekadar lupa jasa. Ini seperti meludahi akar pohon yang menopang diri sendiri.
Kalau sekarang kita melihat bangsa ini dipenuhi orang yang gemar pamer tapi kosong kepala, tukang bacot tapi tanpa empati, jangan salahkan generasinya. Salahkan negara yang menganggap profesi pencetak generasi itu tak penting.
Intinya, ketika gaji guru kalah dari tukang cuci piring, masalahnya bukan pada si tukang cuci. Ini murni soal prioritas negara yang kacau balau. Dan negara yang salah menata prioritas, pelan-pelan pasti akan salah arah, dan hancur dari dalam.
Lalu, bagaimana dengan mimpi Indonesia Emas 2045? Pertanyaan itu seharusnya membuat para wakil rakyat di Senayan meringis.
Bagaimana mungkin mencapai Indonesia Emas, kalau "penambang emas" di dalam kepala manusia justru diperlakukan seperti pengemis? Dari awal, pesannya sudah jelas: "Kalau kamu pintar, jangan jadi guru. Kalau mau hidup layak, cari profesi lain."
Ini bukan kebetulan. Ini desain yang mengarah pada kegagalan jangka panjang.
Indonesia Emas butuh fondasi yang kuat: otak yang jernih, logika yang lurus, karakter yang waras. Semua itu dibentuk di ruang kelas, bukan di baliho, pidato, atau video TikTok.
Tapi orang yang bertugas membentuk semua itu, justru sibuk memikirkan hal yang paling mendasar: besok makan apa.
Mau mencetak generasi emas dengan guru yang setiap bulan pusing memikirkan utang? Ini sama absurdnya dengan mau membuat mobil balap, tapi menghemat pada mesinnya. Bodinya boleh mengkilap, catnya mewah, tapi mesinnya rongsokan. Ya wajar kalau jalannya ngos-ngosan.
Negara ini terlalu fokus berinvestasi pada etalase, dan mengabaikan dapurnya. Bangga membangun gedung sekolah baru, membeli laptop, mengganti kurikulum. Tapi nasib orang yang menggunakan semua fasilitas itu? Mereka disuruh bertahan dengan doa dan slogan kosong.
Indonesia Emas bukan cuma soal tahun 2045. Itu tentang apa yang kita lakukan hari ini. Siapa yang kita beri makan, siapa yang kita hormati, siapa yang kita anggap penting.
Kalau hari ini guru masih dilihat sebagai beban anggaran, jangan harap dua puluh tahun lagi kita dapat generasi emas. Yang ada hanyalah generasi kalengan, mental kerupuk, dan logika yang bengkok.
Ironisnya, kita rajin mengirim anak-anak terbaik kita ke luar negeri. Kita bangga saat mereka bekerja di Google, NASA, atau Singapura.
Tapi kita jarang bertanya, "Kenapa mereka tidak mau pulang? Kenapa tidak mau mengajar di sini?"
Jawabannya sederhana: mereka tidak bodoh. Mereka tahu, di sini orang pintar sering disuruh miskin. Di sini, idealisme dihargai dengan tepuk tangan, bukan dengan kesejahteraan yang nyata.
Jadi, Indonesia Emas? Selama guru masih menjadi tumbal dalam sistem ini, itu cuma slogan belaka. Selama pendidik diperlakukan seperti pengemis berseragam, itu tetap mimpi di siang bolong.
Negara ini tidak kekurangan bahan pidato. Yang kurang adalah rasa malu. Sebab, tidak ada bangsa waras yang bisa berharap masa depannya cerah, jika orang-orang yang seharusnya menyalakan pelitanya, justru dibiarkan hidup dalam gelap.
Artikel Terkait
Remaja 16 Tahun Gantikan Almarhumah Ibu Berangkat Haji dari Makassar
Cemburu Buta Berujung Pembunuhan, Pelaku dan Komplotan Ditangkap di Jombang
TNI dan Warga Nduga Gotong Royong Evakuasi Jenazah di Landasan Udara Terpencil
Kuasa Hukum Ungkap Hubungan Inara Rusli dan Insanul Fahmi Kini Merenggang