Di tengah rimbunnya perkebunan pisang, berdiri sebuah rumah reyot. Itulah tempat Mbah Srinah, 68 tahun, bertahan dari gempuran kemiskinan. Perempuan sepuh asal Desa Tunjungrejo, Pati ini menjalani hari-harinya sendiri, seringkali hanya mengandalkan belas kasih tetangga.
Sudah lebih dari sepuluh tahun ia hidup dalam kekurangan, tanpa keluarga di sisinya. Rumahnya kecil, cuma sekitar 3 x 4 meter, dan kondisinya jauh dari kata layak. Dinding kalsiboardnya penuh jamur dan retak-retak. Atap asbesnya bocor di mana-mana. Yang paling memprihatinkan, tak ada kamar mandi atau sanitasi yang layak di sana.
Di dalam, ruangan sempit itu cuma dibagi dua. Satu bagian dipakai untuk tidur kasurnya pun baru dapat dari bantuan warga. Ruang satunya lagi berantakan, penuh dengan perabotan usang yang digeletakkan begitu saja. Mau tak mau, teras depan pun disulap jadi dapur sederhana.
Suami Meninggal, Warga Bantu
Menurut sejumlah saksi, rumah itu sebenarnya bukan milik Mbah Srinah. Bangunannya berdiri di atas tanah milik warga lain. Dulunya, masyarakat sekitar dan perangkat desa yang membangunnya sekadar untuk tempat berteduh, karena iba melihat kondisinya.
Mbah Srinah benar-benar sebatang kara sejak suaminya wafat sekitar tiga tahun silam. Rasanya sepi. Dua anaknya tinggal jauh, satu di Tayu, satu lagi di Jepara. Mereka hanya datang sesekali.
“Anak-anak mpon do omah-omah. Wes dadi wong, mboke seng gak dadi wong,” ucapnya lirih, suaranya bergetar, pada suatu Jumat di awal Januari lalu.
Anak-anak Serumah dengan Mertua
Sebenarnya, anak-anaknya pernah mengajak Mbah Srinah untuk ikut tinggal bersama. Tapi dia menolak. Alasannya sederhana: ia tak enak hati. Soalnya, anak-anaknya itu tinggal serumah dengan mertuanya.
“Mboten krasan ah. Morotuane kumpul. Mundak ditukari mengken,” katanya, setengah bergurau tapi mata sayu.
Bantuan dari Pemerintah
Untuk makan, Mbah Srinah kadang pergi ke warung. Tapi lebih sering ia dapat dari tetangga yang baik hati. Uang belanjanya berasal dari bantuan pemerintah macam PKH dan bansos lain, plus sedekah warga.
“Mangan kadang luru dewe, seringe dikei tonggo,” akunya.
Muh Sulthon, perangkat Desa Tunjungrejo, menjelaskan bahwa desa tak tinggal diam. Mereka terus mengupayakan bantuan untuk Mbah Srinah, mulai dari PKH hingga BPNT. Pendampingan juga dilakukan agar hidupnya tetap terjamin.
“Kalau bantuan dari desa itu terkait kalau ada sembako. Untuk yang rutin didapatkan itu bantuan sosial dari Dinas Sosial, baik PKH dan BPNT,” jelas Sulthon.
Bantuan itu, lanjutnya, diberikan rutin untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Biasanya dalam bentuk uang tunai, biar Mbah Srinah punya pegangan dan bisa belanja sesuai kebutuhannya sendiri.
“Siklusnya per bulan, tapi cairnya tiga bulan sekali. Selain itu ya, masih ada bantuan warga untuk makan atau keperluan lain,” tambahnya.
Namun begitu, ada satu persoalan yang sulit diatasi: rumahnya. Warga memang pernah swadaya membangunkan tempat tinggal untuk Mbah Srinah. Tapi karena tanahnya bukan miliknya, desa tak bisa mengajukan bantuan bedah rumah ke pemerintah.
“Kendalanya ya itu. Pekarangan bukan miliknya, jadi kami belum bisa membuatkan bangunan permanen. Ya terpaksa seperti itu dulu,” ungkap Sulthon dengan nada prihatin.
Artikel Terkait
Prakiraan Cuaca Makassar Senin 1 Juni 2026: Cerah Berawan hingga Berawan Sepanjang Hari
Polisi Bongkar Perampokan Sopir Ekspedisi di Maros, Dua Pelaku Dilumpuhkan dengan Timah Panas
Jembatan Garuda Merah Putih Resmi Beroperasi, Akhiri Puluhan Tahun Kesulitan Akses Warga di Maros
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,799 Juta per Gram, Buyback Tak Bergerak