Ade Darmawan Tanya Jalur Hukum, Tapi Tudingan ke Demokrat Dibiarin Berbulan-bulan

- Rabu, 07 Januari 2026 | 12:25 WIB
Ade Darmawan Tanya Jalur Hukum, Tapi Tudingan ke Demokrat Dibiarin Berbulan-bulan
Artikel

SBY dan Demokrat Disudutkan, Saat Loyalis Jokowi Bicara Koalisi

Acara Catatan Demokrasi di TVOne kemarin menyisakan satu momen yang cukup menggelitik. Ade Darmawan, yang dikenal sebagai loyalis Jokowi, melontarkan pertanyaan kepada Jimmy Himawan, Kuasa Hukum Partai Demokrat. Intinya, dia mempertanyakan kenapa Demokrat buru-buru mengambil langkah hukum terhadap akun-akun pendukung Jokowi. Menurutnya, bukankah lebih baik diurus secara politik dulu? Mengingat mereka Demokrat dan pendukung Jokowi konon satu tubuh dalam koalisi pemerintahan Prabowo-Gibran.

Pertanyaan itu terdengar aneh di telinga saya. Sungguh aneh.

Bagaimana tidak? Ade Darmawan sendiri sebelumnya dengan percaya diri menyebut “Partai Biru” lah dalang di balik Roy Suryo dan kawan-kawan yang mengusik soal ijazah Jokowi. Spekulasi itu digoreng berbulan-bulan, dibiarkan menggantung tanpa klarifikasi. Nah, ketika akhirnya Demokrat gerak dan ambil jalur hukum, malah disalahkan. Kok bisa? Tanya kenapa tidak pakai jalur politik saja, alasan koalisi tiba-tiba dikedepankan.

Di sisi lain, ini yang bikin gregetan. Mereka tahu sedang satu koalisi, tapi para pendukung terutama Ade Darmawan bisa dengan leluasa menuding “Partai Biru” bahkan SBY sebagai “orang besar” di balik kasus itu. Bukan cuma sehari dua hari. Berbulan-bulan! Tuduhan itu dibiarkan merajalela, tak pernah diluruskan. Bahkan setelah somasi dilayangkan, responsnya cenderung menantang. Seolah-olah mereka kebal.

Dari pertanyaan Ade Darmawan yang janggal itu, setidaknya ada tiga hal yang mencolok.

Pertama, sepertinya para pendukung Jokowi itu tak menyangka SBY dan Demokrat bakal betul-betul berani. Mereka mengira ini cuma gertakan. Mereka yang merasa paling pemberani, sementara lawan dianggap takut untuk bertindak tegas.

Kedua, mereka baru “ngeper” ketika berhadapan dengan konsekuensi hukum. Tiba-tiba ingat kalau mereka satu koalisi. Padahal sebelumnya, siapa pun yang dianggap menghalangi laju Gibran langsung dicap musuh. Mereka mungkin lupa, atau sengaja melupakan, bahwa Jokowi bukan lagi presiden. Posisi Gibran adalah wakil presiden. Ya, wapres.

Ketiga, kepercayaan diri mereka terlihat begitu tinggi. Bahkan berlebihan. Rasa bersalah? Itu tidak ada. Yang salah pasti pihak lain. Ketika SBY dan Demokrat membela diri, malah dituduh salah langkah. “Kenapa hukum? Kenapa bukan politik?” Giliran menyerang, lupa ada ikatan koalisi. Giliran dibalas, baru ingat. Dasar!

Penulis: Erizal

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar