Venezuela punya presiden baru. Atau lebih tepatnya, seorang penjabat presiden. Delcy Rodriguez, yang sebelumnya menjabat wakil presiden, tiba-tiba diangkat oleh Mahkamah Agung negara itu untuk mengambil alih kursi kepresidenan. Pengalihan kekuasaan ini terjadi tak lama setelah aksi dramatis Amerika Serikat menangkap Presiden Nicolas Maduro.
Upacara pelantikannya digelar di Majelis Nasional, Senin (5/1). Di hadapan para anggota parlemen, Rodriguez dengan tegas mengucapkan sumpah jabatan.
"Saya melakukan ini atas nama seluruh rakyat Venezuela," ujarnya, menegaskan legitimasi peralihan kekuasaan yang mendadak itu.
Lantas, apa yang terjadi pada Maduro? Pria yang telah lama memimpin Venezuela itu kini berada dalam tahanan AS. Dia menghadapi dakwaan berat: terlibat dalam perdagangan narkoba berskala besar. Jaksa AS menuduhnya bekerja sama dengan Kartel Sinaloa dan geng Tren de Aragua, mengatur rute penyelundupan kokain, bahkan memanfaatkan militer dan fasilitas kepresidenan untuk melindungi bisnis haram itu. Tak cuma Maduro, dakwaan yang diperbarui pada Sabtu (3/1) juga menjerat istrinya, Cilia Flores, yang dituduh terlibat perintah penculikan dan pembunuhan.
Operasi Rahasia Pentagon di Caracas
Bagaimana AS bisa menangkap seorang presiden di ibu kotanya sendiri? Rincian operasinya mulai terkuak dari Pentagon. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, membuka suara pada Selasa (6/1). Menurutnya, operasi itu melibatkan hampir 200 personel militer AS yang diterjunkan langsung ke jantung kota Caracas.
"Mereka masuk ke pusat Caracas dan menangkap seorang individu yang telah didakwa dan dicari oleh sistem peradilan AS sebagai bagian dari dukungan terhadap penegakan hukum, tanpa satu pun warga AS tewas," kata Hegseth dalam sebuah kunjungan ke pangkalan angkatan laut di Virginia. Pernyataannya itu terekam dalam video AFP.
Hegseth terlihat bersemangat. Dia tak cuma membahas operasi di Venezuela, tetapi juga menekankan kesiapan AS memburu kapal-kapal penyelundup narkoba di perairan Amerika. Dia ingin menghidupkan kembali semangat juang pasukannya, menjadikan mereka "kekuatan tempur paling mematikan di dunia". Hegseth lalu menyebut berbagai medan operasi lain, dari Afghanistan, konflik Gaza, hingga perang di Ukraina, sambil menyayangkan banyaknya korban jiwa prajurit AS di masa pemerintahan sebelum Donald Trump.
Kecaman Pedas dari Beijing
Langkah AS ini tentu saja tidak lepas dari sorotan dunia. Reaksi paling keras salah satunya datang dari China. Pemerintah Beijing dengan lantang mengutip penangkapan Maduro oleh pasukan elite AS akhir pekan lalu.
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, tak sungkan menyindir. Dia menyebut AS berlaku layaknya "hakim dunia" dan mempertanyakan dasar hukum tindakan mereka. Pernyataannya disampaikan dari Pakistan, Senin (5/1).
"Kami tak pernah bisa percaya ada negara di dunia yang bisa bertindak sebagai polisi dunia, ataupun kami bisa menerima ada negara yang mengeklaim diri sebagai hakim dunia," tegas Wang Yi, seperti dikutip Reuters.
"Kedaulatan dan keamanan semua negara harus dilindungi secara penuh di bawah hukum internasional," tambahnya. Meski tak menyebut AS secara gamblang, konteksnya jelas merujuk pada kasus Venezuela.
Kecaman juga dilayangkan dari markas PBB. Sun Lei, Pelaksana Tugas Pemimpin Misi Permanen China untuk PBB, menyatakan keterkejutan dan kutukan atas penangkapan itu dalam pertemuan khusus Dewan Keamanan.
"Cara militer bukanlah solusi atas masalah, dan penggunaan kekuatan tanpa pandang bulu hanya akan memicu krisis yang lebih besar," ujar Sun Lei. Kritik itu konsisten dengan prinsip non-intervensi yang selalu dipegang Beijing, plus penolakan mereka terhadap aksi militer tanpa mandat PBB.
Artikel Terkait
BMKG Pastikan Gempa Kuat di Fiji Tak Picu Ancaman Tsunami bagi Indonesia
Kementerian Pertanian Pastikan Harga Ayam di Pasar Minggu Masih Sesuai Acuan
Pakar APINDO Ingatkan KUHP Baru Bisa Tak Efektif Jika Penegak Hukum Bermasalah
IKA Unhas Salurkan 22 Ton Beras untuk Program Ramadhan