"Keluarga saya sebagian itu Nasrani. Tapi kadang-kadang, kalau ajaran Nasrani yang paling pokok, ya monsinyur, kalau tidak salah ya pendeta, yang paling pokok adalah kalau pipi kiri kita ditempeleng, kita harus kasih pipi kanan. Betul? Betul, ya? Betul."
Ia bahkan sedikit melempar tantangan dengan senyum. "Karena waktu kecil saya sekolah Kristen juga, saya itu. Jangan-jangan saya ngerti cerita-cerita di Bible lebih dari saudara-saudara, jangan-jangan."
Pesan intinya kemudian ia sampaikan dengan lebih serius. Prabowo menekankan nilai memaafkan dan mencari kebaikan sebagai prinsip hidup yang ia pegang teguh. Nilai ini, katanya, tetap relevan bahkan di tengah dinamika politik yang keras dan penuh persaingan.
"Jadi, bagi saya, saya selalu ingin cari kebaikan daripada ketidakbaikan. Saya ingin cari persatuan daripada perpecahan," tegasnya.
Menurutnya, perbedaan dan kekalahan tak seharusnya melahirkan kebencian. "Kalau masuk ke dalam kancah politik, pasti persaingan sangat keras, ketat. Dan tidak ada masalah," pungkas Prabowo menutup segmen pidatonya.
Artikel Terkait
Pasca-Bencana, Pembersihan Kompleks Perkantoran Aceh Tamiang Capai 30 Persen
Status Anak Asuh Arkana Tak Tersentuh Putusan Perceraian Ridwan Kamil-Atalia
JPU Tolak Eksepsi Nadiem, Tuntut Sidang Lanjut di Kasus Korupsi Chromebook Rp2,1 Triliun
Prabowo: Prestasi Atlet di SEA Games 2025 Cermin Kekuatan Bangsa